VIVAnews - Pinjaman proyek pemerintah Jepang kepada pemerintah Indonesia hingga 30 September 2009 tercatat sebanyak 55 proyek. Total pinjaman ini nilainya cukup besar, 813 miliar yen Jepang atau sekitar Rp 85,368 triliun.
Direktur Pembiayaan dan Hibah Luar Negeri Departemen Keuangan Maurin Sitorus mengatakan, pembiayaannya proyek-proyek tersebut sebagian besar dibiayai Japan International Cooperation Agency.
"Sampai dengan 31 Maret 2009, sudah ada 5 perjanjian proyek yang ditandatangani, nilainya 71 miliar yen," kata Maurin di kantornya, Jakarta, Selasa malam, 13 Oktober 2009.
Rincian proyek ini antara lain perbaikan penanganan wilayah banjir sebesar 7 miliar yen, perbaikan dan pengerukan sedimen waduk di Wonogiri sebesar 6 miliar yen, pengembangan Institut Pertanian Bogor tahap III sebesar 5,6 miliar yen.
Untuk konstruksi Mass Rapid Transit (MRT) sebesar 48 miliar yen, serta untuk proyek interkoneksi Jawa-Sumatera sebesar 3 miliar yen.
Selain itu, pemerintah Indonesia juga mengusulkan pendanaan untuk pinjaman program perubahan iklim (CCPL) tahap II sebesar US$ 400 juta.
"Berdasarkan informasi JICA Jakarta, penandatanganan pinjaman program ini akan dilakukan pada November depan," ujarnya.
Pemerintah juga telah mengusulkan sejumlah proyek potensial baru yang dibiayai melalui pemerintah Jepang. Penyampaian usulan ini telah disampaikan Deputi Pendanaan Pembangunan Bappenas kepada Duta Besar Jepang dengan nilai US$ 735 juta untuk lima jenis proyek.
"Untuk usulan hibah luar negeri per September nilai yang diusulkan ke pemerintah Jepang sebanyak 24 miliar yen atau US$ 259 miliar dengan rincian 66 kegiatan," katanya.
Mengenai gempa di Sumatera Barat, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pemerintah Jepang menawarkan bantuan ke Indonesia.
Namun sebenarnya secara rutin Jepang juga telah memiliki komitmen sejak 2005, yakni pinjaman program bencana Indonesia atau disebut dengan Indonesia Disaster Recovery and Management Sector (IRSDP).
"Mereka belum menyampaikan besaran dan jenis bantuan," ujar Sri Mulyani. Namun untuk IRSDP 2009 jumlahnya mencapai US$ 100 juta.
hadi.suprapto@vivanews.com