Lanskap Ekonomi Indonesia

Anggaran Pendidikan Rp 200 Triliun Sia-Sia

"Keprihatinan kami, kita tidak menentukan kualitas pendidikan yang kita hasilkan."

Rabu, 7 Oktober 2009, 16:34 WIB
Heri Susanto, Agus Dwi Darmawan
Jam Masuk Sekolah (ANTARA/Ujang Zaelani)

VIVAnews - Ekonom Faisal Basri menilai pembangunan sumber daya manusia Indonesia terbilang lamban. Ini bisa dilihat ketika Pemerintah sudah mendapat tambahan dana sesuai amanat undang-undang tapi tidak ada target besar yang ini dicapai.
 
Menurut dia, akan sia-sia kalau undang-undang sudah mengalokasikan dana APBN 20 persen atau Rp 200 triliun untuk dana pendidikan, tapi mutunya masih tertinggal. Ini bisa dilihat dari reorientasi pendidikan yang tidak pernah melihat output yang diinginkan seperti apa.
 
"Keprihatinan kami, kita tidak menentukan kualitas pendidikan yang kita hasilkan. Harusnya ada targetnya 5 tahun ke depan mau seperti apa," katanya dalam mempresentasikan buku 'Lanscape Ekonomi Indonesia' di Hotel Sahid, Rabu 7 Oktober 2009.
 
Faisal memisalkan kemampuan anak didik diarahkan untuk pemecahan masalah dan dalam hal kemampuan matematika."Kalau hanya standar-standar saja dan kita sudah mengeluarkan dana ratusan triliun rupiah, maka kami tidak akan merelakan itu," katanya.
 
Tak hanya soal pendidikan, katanya, dalam hal kesehatan Indonesia juga tidak memiliki target berarti. Indonesia masuk pengidap TBC ketiga terbesar di dunia, tapi sampai saat ini realisasi untuk menurunkan peringkat ini, nihil.
 
"Saya tidak pernah mendengar target-target itu, pendidikan dan kesehatan ini tidak bolah kita abaikan," katanya.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ