Bisnis

Asosiasi Minta Eropa Bebaskan Bea Masuk Mebel

Bila Eropa menerapkan bea masuk 0 persen pada industri mebel, ekspor akan naik 20 persen.

Rabu, 7 Oktober 2009, 13:37 WIB
Hadi Suprapto, Elly Setyo Rini
Perajin mengecat kursi yang dipesan khusus beberapa sekolah di Makassar. (ANTARA/Sahrul Manda)

VIVAnews - Kalangan pengusaha mengharapkan pemerintah negara Uni Eropa bisa membebaskan bea masuk mebel dan kerajinan Indonesia. 

"Kalau saja bea masuk dinolkan, maka ekspor akan melonjak naik hingga 20 persen," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia Ambar Tjahyono di Jakarta, Rabu 7 Oktober 2009.

Pasalnya, ekspor produk tersebut pada tahun ini diperkirakan minus 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan demikian, tahun depan akan ada pertumbuhan ekspor sekitar 10 persen dan ditargetkan pada 2011, ekspor akan bertumbuh 12 persen.

Hingga saat ini, negara Uni Eropa masih mengenakan bea masuk sebesar 35 persen untuk ekspor produk mebel dan kerajinan.

Sebagai upaya menurunkan bea masuk tersebut, Asosiasi melakukan pendekatan dengan asosiasi pengusaha serupa di Uni Eropa. "Kami dekati dulu asosiasi pengusaha mereka karena pemerintah itu patuh dengan apapun yang dikatakan pengusaha," kata Ambar.

Untuk itu, dia menambahkan, Asosasi telah melakukan tur promosi ke 27 negara Eropa, diantaranya Belgia, Perancis, dan Yunani. "Target kami bagaimana mebel Indonesia bisa masuk pasar Eropa dengan bea masuk lebih rendah, bahkan kalau perlu dibebaskan bea masuknya," katanya.

Data Asmindo menyebutkan, ekspor mebel dan kerajinan Indonesia ke Eropa mencapai 20 miliar euro, di mana 800 juta euro di antaranya berasal dari kerajinan.

Eropa masih menjadi tujuan utama ekspor karena Amerika Serikat masih belum selesai pemulihan krisisnya. "Indonesia mendapat tempat istimewa di negara Eropa sehingga akan dimaksimalkan," katanya.

Pendekatan dengan negara Uni Eropa juga menjadi salah satu strategi untuk bersaing dengan ekspor produk serupa dari Vietnam. Berdasarkan pantauan Asmindo, ekspor Vietnam mengalami pertumbuhan 40 persen setiap tahun atau sekitar US$ 3,8 miliar pada tahun ini. Sedangkan ekspor Indonesia hanya mencapai US$ 2,6 miliar.

"Kita kalah jauh, padahal dari segi bahan baku dan industri pengolahan kita lebih besar," ujar Ambar.

hadi.suprapto@vivanews.com

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau 
  
webtorial