Jangka Panjang, Bakrie Sumatera Rambah Afrika

Negara Afrika yang menarik untuk pengembangan CPO&karet seperti Liberia dan Pantai Gading.

Kamis, 17 September 2009, 12:58 WIB
Antique
Ambono Janurianto, Dirut Bakrie Sumatera Plantations (www.antarafoto.com)

VIVAnews - PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) berencana mengembangkan perkebunan kelapa sawit dan karet di negara Afrika. Pasalnya, iklim yang serupa dengan Indonesia menjadikan negara tersebut menarik.

"Untuk jangka panjang, lahan di Afrika menjanjikan untuk perkebunan UNSP," kata Presiden Direktur Bakrie Sumatera Plantations Ambono Janurianto saat ditemui VIVAnews pada acara buka bersama di Jakarta, Rabu malam, 16 September 2009.

Menurut Ambono, lahan-lahan di Afrika menjadi menarik untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit dan karet karena saat ini belum banyak disadari para investor. Padahal, iklim negara-negara tersebut tropis dan tidak jauh berbeda dengan Indonesia.

"Kita tahu, Indonesia banyak diminati investor CPO (minyak sawit mentah) dan karet. Nah, kalau lahan di sini sudah terbatas, mesti dicari di tempat lain yang iklimnya sama," ujarnya.

Namun, Ambono mengaku investasi di negara Afrika juga penuh risiko dan tantangan lebih berat dibandingkan di dalam negeri. Pasalnya, kondisi dan situasi politik di negara tersebut tidak stabil. "Pergantian tumpuk kepemimpinan dan pemerintahan bisa berganti dengan cepat. Itu tentunya, tidak baik bagi investasi," kata dia.

Dia menuturkan, negara-negara Afrika yang menarik untuk pengembangan bisnis minyak sawit mentah dan karet di antaranya Liberia dan Ivory Coast (Pantai Gading). "Tapi, Afrika itu untuk jangka panjang. Kalau jangka pendek, masih di Indonesia," tutur Ambono.

Sebelumnya diketahui, perseroan tengah menjajaki pengembangan perkebunan kelapa sawit dan karet ratusan ribu hektare di Liberia, Afrika Selatan.

"Kami sedang menjajaki untuk memperoleh konsesi lahan seluas 200 ribu hektare," ujar Ambono belum lama ini.

Menurut dia, kendati sempat dilanda perang saudara selama 20 tahun, Bakrie Sumatera tertarik berinvestasi di negeri tropis yang terletak di benua Hitam tersebut. "Apalagi, insentif konsensi penguasaan lahan hingga 100 tahun."

Untuk mewujudkan proyek internasional itu, mengacu laporan triwulan III 2008, sampai 30 September tahun lalu, Bakrie Sumatera sudah melakukan survei lapangan dan pengurusan perizinan. Total dana yang sudah dikeluarkan untuk proyek ini sekitar Rp 4,1 miliar untuk perkebunan karet 4.000 hektare dan perkebunan kelapa sawit 4.000 hektare.

Namun, Ambono mengakui tidak mudah untuk memperoleh konsesi lahan di negara konflik itu. Peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang masih mengendalikan Liberia juga membuat semua proses investasi berjalan transparan. "Pembicaraan masih terus dilakukan."


antique.putra@vivanews.com



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ