VIVAnews - Menteri Negara BUMN Sofjan Djalil menilai Industri rafinasi belum bisa memproduksi sendiri gula mentah sebagai bahan baku gula industri.
"Kalau sekarang belum bisa," kata dia di sela-sela Rapat Kerja dengan Komisi Perdagangan dan Perindustrian DPR RI, Rabu malam, 16 September 2009.
Meski demikian, dia tidak menepis kebutuhan gula mentah masih kurang terutama untuk industri rafinasi. "Kalau untuk gula konsumsi, raw sugar masih cukup, tapi untuk industri masih kurang," katanya.
Menurut sumber, pemerintah mengharapkan industri gula rafinasi mampu mengadakan atau menyerap bahan baku eks tebu dalam negeri, minimal sebanyak 50 ribu ton pada 2010.
Kemampuan menyerap bahan baku eks tebu dalam negeri akan menjadi salah satu pertimbangan dalam pemberian alokasi impor gula mentah bagi industri gula rafinasi. Keputusan tersebut, termasuk dalam klausul hasil Rapat Koordinasi dan Rapat Teknis tentang gula awal September lalu.
Menanggapi hal tersebut, Sofyan mengaku belum mengetahui secara pasti. "Tapi pemerintah ingin arahnya ke sana. Mungkin tahun depan bisa," kata dia.
Selain itu, dia menambahkan, marjin yang rendah ditengarai menjadi penyebab industri rafinasi enggan memproduksi gula mentah. "Banyak pula PTPN yang tidak terlalu berminat memproduksi raw sugar karena marjin kecil dan masyarakat masih belum terlalu peduli dengan icumsa (tingkat kecerahan gula) rendah, tidak seperti industri rafinasi," ujarnya.
Mengenai tambahan impor 180 ribu ton gula mentah untuk BUMN pabrik gula, Sofyan mengaku belum mendapat laporan pabrik gula mana saja yang mengajukan permohonan impor. "Mereka masih menunggu alokasi impor dari Menteri Perdagangan," kata dia.
hadi.suprapto@vivanews.com