VIVAnews - Ekspor produk hortikultura seperti sayur, buah, dan bunga berpotensi untuk ditingkatkan. Seiring upaya tersebut para pelaku ekspor menilai masih terganjal beberapa kendala, termasuk kalah bersaing dengan negara kompetitor.
Menurut Direktur PT Alamanda Sejati Utama Komar Muljawibawa, ada berbagai kendala yang dihadapi dalam pengembangan ekspor hortikultura. "Infrastruktur kita kurang memadai, termasuk sarana jalan yang belum menjangkau seluruh daerah produksi pertanian," kata Komar di sela-sela kunjungan kerja Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu ke pabriknya di Pangalengan Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu, 6 September 2009.
Selain itu, dia mengaku Indonesia kalah bersaing dengan masih kurangnya pelabuhan ekspor serta minimnya penerbangan khusus kargo untuk ekspor. "Sekarang ini kargo termahal adalah Indonesia, khususnya untuk produk agrikultural," ujarnya.
Komar menuturkan, beberapa kendala itu lah yang menyebabkan ekonomi biaya tinggi yang harus ditanggung eksportir. Akibatnya, harga produk Indonesia menjadi tidak kompetitif di dunia.
Ekspor hortikultura, menurutnya, juga mengalami kendala eksternal di mana hampir semua negara memproteksi petani dan melindungi pasarnya.
"Tidak perlu jauh-jauh, contohnya di China. Hingga kini, buah dari Indonesia yang bisa diekspor ke sana barulah manggis. Adanya persyaratan yang luar biasa sulit, misalkan terkait regitrasi gudang. Sedangkan negara kita persyaratan sangat mudah," kata Komar.
Komar berharap, agar pemerintah bisa menaikkan posisi tawar produk Indonesia di negara lain, salah satunya dengan mulai memproteksi pasar dalam negeri.
Menanggapi hal tersebut, Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengatakan ada berbagai produk yang bisa dikembangkan untuk kemudian dapat diekspor ke mancanegara.
"Yang terpenting, keseluruhan rantai sudah dikembangkan dengan baik, mulai dari bibit, teknologi paska panen, hingga packing (pengepakan)," kata Mari.
Mari mengakui, potensi ekspor buah dan sayur masih terkendala masalah logistik. "Memang, yang menjadi kendala akan jadi prioritas utama pemerintah," ujarnya.
Selain itu, dia menambahkan, seperti masalah syarat kesehatan dan karantina yang harus dipenuhi di negara tujuan, pemerintah yang harus proaktif.
"Oleh karena, harus dipahami aturan yang berlaku di negara tujuan, serta standarnya. Sebab, ada good agriculture practices (GAP) yang harus diperhatikan, terutama untuk negara-negara maju seperti Eropa, Amerika Serikat, dan Australia yang cukup berat persyaratannya. Begitu juga
dengan Cina dan Korea," kata dia.
Mari menuturkan, selain masalah kualitas dan persyaratan yang ketat, tantangan memenuhi volume yang besar juga menjadi kendala. "Untuk itu dibutuhkan plantation yang besar dan tidak bisa hanya mengandalkan petani. Jenis yang biasanya dari plantation adalah nanas dan pisang. Kalau sayuran lebih cocok di level petani," ujarnya.
antique.putra@vivanews.com