VIVAnews - Pembiayaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2009, sudah terealisasi 86 persen dari target Rp 144,5 triliun. Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Rahmat Waluyanto mengatakan dari realisasi itu maka sisa pembiayaan sampai akhir tahun nanti tinggal Rp 18 triliun.
Rahmat mengatakan sisa pembiayaan ini akan dipenuhi dari pemanfaatan beberapa instrumen yang dimiliki pemerintah. "Kami masih akan menggunakan Surat Berharga Negara, Sukuk, atau SUN dengan proporsi yang optimal," katanya di Kantor Menko Perekonomian, Jumat 4 Agustus 2009 malam.
Pemerintah masih akan melihat sesuai kondisi pasar. Adapun sejumlah underlying aset yang telah diajukan, mungkin saja bisa dipakai untuk penerbitan sukuk. "Dengan persetujuan DPR, maka ini menjadi fleksibilitas yang besar buat kita," katanya.
Sisa waktu penerbitan Surat Berharga Negara/Surat Berharga Syariah Negara (SBN/SBSN) sampai akhir tahun nanti, diakui dia, jangka waktunya memang relatif pendek. Tapi yang jelas sampai Desember nanti pemerintah sudah mengumumkan metode penerbitan sukuknya yang akan dilakukan melalui sistem lelang.
"Nanti kami lihat permintaan seberapa besar, tapi prinsipnya adalah bahwa sepanjang tenor yang dikeluarkan bisa diserap pasar itu lebih baik, nanti kami kombinasikan dengan SUN," ujarnya.
Pemerintah berniat dalam penerbitan Surat Berharga Syariah Negara dipilih periode jangka menengah. Hal ini menyangkut pasar sukuk yang masih baru sehingga masih perlu dikembangkan. Prinsip yang dianut adalah 'semakin banyak, pasar semakin baik dan lebih aktif sehingga bisa lebih likuid'.
Menurut Rahmat sampai Desember tahun ini, pemerintah memastikan tidak ada lagi penerbitkan SBN/SBSN berdenominasi valuta asing. Ia beralasan karena target tinggal Rp18 triliun, jadi bukan hal yang sulit untuk dicapai.