Harga Gula Melambung

Mendag Bantah Stok Gula Langka

Mari Pangestu tidak sependapat kenaikan harga gula akibat kelangkaan komoditas ini.

Jum'at, 28 Agustus 2009, 16:57 WIB
Umi Kalsum, Elly Setyo Rini
Mendag Mari Elka Pangestu (Andika Wahyu)

VIVAnews - Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu membantah adanya kelangkaan stok gula yang memicu harga gula meroket. Ia memastikan stok gula aman.

"Saya tegaskan, kenaikan harga gula bukan karena langka stok. Stok tidak ada masalah," ujar Mari saat jumpa pers di kantor Ridwan Rais Jakarta, Jumat, 28 Agustus 2009.
 
Bahkan, dia menambahkan, produksi gula baru berjalan 51 persen dari prognosa produksi tahunan, sementara sisanya sebanyak 49 persen masih akan digiling hingga Oktober 2009. "Kondisi stok aman jadi bukan karena barang tidak ada jadinya harga naik," kata dia.
 
Stok gula saat ini, dia menambahkan, masih mencukupi untuk satu bulan kebutuhan nasional. Menurutnya, stok saat ini berada dalam posisi normal untuk kondisi musim giling. "Di akhir tahun, baru penting untuk punya stok dari Januari sampai musim giling berikutnya," kata Mari.
 
Mari menilai, harga internasional menjadi faktor dominan mengapa harga gula lokal naik tajam. "Harga internasional masih mempengaruhi harga lelang," ujarnya. Harga internasional naik tajam menjadi US$ 550 per ton, sedangkan harga per Januari hanya US$ 330 per ton.
 
"Kenaikan harga internasional mencapai 100 persen, sedangkan kenaikan di dalam negeri tidak mencapai 50 persen. Jadi sebenarnya produksi di dalam negeri sangat membantu tidak naik signifikan," kata Mari.
 
Krisis gula internasional dibenarkan oleh Direktur Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian Achmad Manggabarani. "Dalam seminar internasional gula di Bangkok pekan lalu, memang mencuat kekhawatiran produksi gula dunia bakal berkurang," kata dia.
 
India, kata dia, yang selama ini menjadi eksportir gula, mulai tahun lalu telah menjadi importir sebanyak 6 juta ton gula. Selain itu, penurunan produksi gula sebanyak 7,5 persen terjadi di Thailand sehingga ekspor yang selama ini mencapai 5,7 juta hanya sebanyak 5 juta ton. "Brazil juga alami penurunan produksi gula karena dialihkan ke minyak," kata dia.
 
Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil juga berpendapat stok gula saat ini mencukupi untuk kebutuhan satu bulan ke depan. "Stok terakhir tanggal 27 Agustus, ada 266 ribu ton. Sedangkan kebutuhan bulanan sekitar Rp 220 ribu ton," kata dia.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ