VIVAnews - Proyek uji coba pelayanan ekspor impor satu atap antara Indonesia dengan Malaysia yang dirilis awal Juni lalu diperkirakan akan berlanjut ke negara lain.
"Setelah Malaysia diujicobakan, selanjutnya mungkin Filipina, Brunei Darussalam, dan Vietnam," kata Ketua Pelaksana Teknis Tim National Single Window (NSW) Susiwidjono usai rapat koordinasi pelaksanaan NSW akhir pekan lalu, di lingkungan kantor Departemen Perdagangan, Jakarta.
Menurutnya, ketiga negara tersebut sudah siap teknis untuk uji coba (pilot project) National Single Window (NSW) dengan Indonesia. Sementara, dengan Thailand, pihaknya masih menunggu analisis untung rugi (cost benefit analysis) yang dilakukan oleh Thailand.
Meski secara teknis sudah siap, Susiwidjono mengaku masih ada aspek yuridis yang menjadi kendala. "Kalau sudah membicarakan kepentingan antar negara dalm hal pertukaran data antar negara, permasalahannya tidak sekedar membuat sistem bersama, tapi yang terpenting aspek legalnya," kata dia.
Susiwidjono memisalkan, jika ada kesalahan data yang dimasukkan dalam kerangka pelayanan satu atap, maka masih belum jelas yurisdiksi negara mana yang akan digunakan untuk mengatur karena masing-masing negara pasti mempunyai undang-undang yang berbeda. "Mana bisa antar negara diberlakukan UU bersama," ujarnya. Ketiga negara yang disebut telah siap tersebut sempat meminta kejelasan aspek non teknis tersebut.
Sementara itu, dalam kerangka implementasi kesepakatan dalam ASEAN Economic Community, saat ini negara-negara ASEAN sedang mengembangkan sistem skor untuk menilai tingkat implementasi AEC Blueprint. Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam pertemuan tahunan ASEAN Economic Ministers (AEM) mengatakan, skor sementara untuk periode 1 Januari 2008 hingga 31 Mei 2009, baik secara kolektif maupun individual berada pada level 60-70 persen. "Indonesia sudah berada di atas-atas rata-rata, skornya sekitar 69 persen," kata Mari.