VIVAnews - Bursa kabinet menteri kembali memanas paska putusan Mahkamah Konstitus kemarin. Kalangan pengusaha menilai empat menteri kabinet lama harus dipertahankan.
"Sri Mulyani masih oke, Mari Elka Pangestu sangat baik untuk lobi internasional, Sofjan Djalil juga bagus, dan Djoko Kirmanto secara teknis juga oke," ujar Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi kepada VIVAnews di sela-sela acara Sewindu KPPOD Mengawal Otonomi Daerah di Balai Kartini Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2009.
Selain empat nama tersebut, Sofjan menyangsikan kinerja menteri-menteri lain. "Yang lain, saya belum bisa nilai keberhasilan mereka, bahkan ada juga yang bukan the right man on the right place sehingga harus diganti," katanya.
Nama baru disebutkan oleh Sofjan, diantaranya, mantan Menteri Pertambangan Kuntoro Mangkusubroto, mantan Dekan FE UI Bambang Brodjonegoro, Ketua LPEM UI Chatib Basri, serta Ketua Kadin MS Hidayat. "Yang penting, tim ekonominya solid," kata dia.
Untuk posisi Menteri Perindustrian, menurut dia, layak dijatuhkan untuk Ketua Umum Kadin MS. Hidayat. "Saya dukung Hidayat jadi Menperin," ujarnya. Bahkan dia berharap Departemen Perindustrian dan Departemen Perdagangan tidak digabung, "terlalu berat kalau digabung."
Lepas dari nama-nama yang disebutnya, Sofjan berharap menteri di bidang ekonomi diisi oleh kalangan profesional. "Tidak hanya profesional yang tidak tahu bidangnya, tapi juga yang punya management capability," ujarnya.
Sehingga, menteri-menteri di bidang ekonomi mempunyai latar belakang yang tepat dengan departemen yang dipimpinnya. "Tidak bisa tiba-tiba pegang departemen yang begitu besar tapi tidak tahu apa-apa dan musti belajar lagi. Kita tidak punya waktu untuk belajar," kata dia.
Meski demikian, Sofjan tidak menepis adanya profesionalitas di kalangan elit politik. "Banyak juga yang profesional dan yang baik di partai politik, tapi tidak harus ketua parpol kan?" kata Sofjan.
Karena, menurutnya, Indonesia sudah cukup tertinggal dalam peta persaingan dunia. "Sekarang waktunya untuk kejar ketertinggalan dengan tim ekonomi yang kuat," ujarnya.