VIVAnews - Hampir setiap orang pernah mengungkapkan rasa cinta. Baik itu kepada orang lain, maupun kepada sesuatu. Tapi apa hakikat cinta menurut Menteri Koordinator Bidang Perekonomian yang juga Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati?
Menurut dia, hakikat cinta seperti moto Kamar Dagang Indonesia yang tertera di dalam logonya. Tabah, setia, dan jujur. "The real cinta itu memiliki kesetiaan, kejujuran, dan ketabahan atas ujian," kata dia dalam pembukaan Musyawarah Provinsi Kadin Jawa Timur, di Hotel Shangri-La, Surabaya, Senin kemarin, 10 Agustus 2009.
Saat itu Sri Mulyani sedang membicarakan 100% Cinta Indonesia yang menjadi tema besar Musyawarah Provinsi itu. Jadi, menurut dia, jika benar-benar cinta produk Indonesia, orang itu akan setia menggunakan produk Indonesia meski tidak diketahui orang lain, dan setia meski ada yang lebih bagus.
"Serta tabah, meski jika Anda menggunakan sepatu lokal rasanya panas, tidak enak, dan sakit," ujar Sri Mulyani yang langsung disambut tawa peserta musyawarah. "Ini tugas Anda memperbaiki mutu."
"Untung saya bukan Pak Kalla (Wakil Presiden Jusuf Kalla) yang suka memeriksa merk sepatu Anda-anda sekalian," tutur dia, menambahkan.
Kondisi ini berbeda dengan cinta gombal. Jika cinta gombal, menurut Sri Mulyani, dia akan mudah terbawa ke sana-ke mari mengikuti tren. "Mudah-mudahan Anda-anda tidak bilang 100 persen cinta produk Indonesia, tapi menggunakan produk impor," katanya.
Menurut dia, cinta Indonesia tidak hanya diwujudkan dengan mengkonsumsi produk lokal. Bagi pengusaha, mendirikan pabrik di Indonesia jauh lebih baik dibandingkan mendirikan pabrik di negara lain yang insentif dan layanannya jauh lebih baik.
Tak hanya kesadaran membayar pajak pengusaha sangat diperlukan untuk membangun negara ini. Tapi juga kesadaran untuk mengentaskan pengangguran dan mengurangi kemiskinan.
"Saya khawatir, Anda bilang 100% Cinta Indonesia, kok pabriknya di China atau Singapura," katanya. "Mudah-mudahan tidak." hadi.suprapto@vivanews.com