VIVAnews - Masuknya prinsipal mobil asal Eropa, Volkswagen, dan perusahaan lampu, Philips Lighting ke Indonesia merupakan kabar bagus. Mereka berencana membangun pabrik di Indonesia.
Meski demikian, pemerintah perlu memikirkan fokus pengembangan bisnis guna meraup dana investasi dari luar negeri lebih banyak. Ini menyusul bangkrutnya negara-negara maju dalam kancah perekonomian dunia.
Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Bidang Telekomunikasi, Teknologi, Informasi dan Media, Kamar Dagang dan Industri Indonesia, Anindya Bakrie dalam diskusi menjelang Musyawarah Provinsi Kadin Daerah Jawa Timur, di Hotel Shangri-La, Surabaya, Minggu malam, 9 Agustus 2009.
Dia mengatakan, terlalu naif untuk mengatakan cara menjalankan perekonomian negara itu mirip dengan cara menjalankan suatu perusahaan. "Tapi cara menarik investasi dari luar banyak sekali kemiripan antara manajemen perusahaan dengan negara," kata dia.
Menurut dia, tanpa fokus yang jelas, baik perusahaan maupun negara, tidak bisa mengambil pasar yang banyak. "Intinya, Indonesia harus fokus pada salah satu bidang. Apakah akan fokus pada industri domestik, atau orientasi ekspor," ujarnya.
Masuknya investasi perusahaan-perusahaan asing di Indonesia menandakan iklim investasi di Indonesia yang lebih baik. Selain karena pertumbuhan ekonomi yang positif di tengah ketidakpastian perekonomian global. "(Mobil) VW dan lampu Philips membuat pabrik di Indonesia. Ini kabar yang baik," ujarnya.
Anindya mengatakan, konsumsi masyarakat yang mencapai Rp 5.600 triliun menunjukkan Indonesia merupakan pasar potensial. Karena itu, meski pasar ekspor turun, Indonesia masih kebal dari krisis.
Perbaikan infrastruktur juga mutlak dilakukan. Sebab, investasi langsung yang ditanamkan di Indonesia sangat terkait dengan infrastruktur yang ada. Sistem pelabuhan yang baik, jalan tol yang banyak, pembangkit listrik yang mencukupi, ini sangat mempengaruhi minat investor. hadi.suprapto@vivanews.com
Laporan: Martuji l Surabaya