VIVAnews - Calon presiden yang diusung PDI Perjuangan dan Partai Gerindra, Megawati Soekarnoputri, menyesalkan postur RAPBN 2010 yang masih mengandalkan utang. RAPBN menetapkan defisit anggaran 1,6 persen.
Defisit itu akan ditutup dari utang, baik dalam dan luar negeri. Namun untuk menutup utang ini pemerintah memastikan tidak akan menggunakan pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF). Solusinya, pemerintah akan melakukan empat kebijakan. Pertama, mengupayakan pinjaman dengan persyaratan lunak untuk jangka panjang.
Kedua, mengutamakan penerbitan SBN rupiah di pasar dalam negeri, guna pengembangan pasar modal dan membantu pengelolaan likuiditas pasar. Ketiga, membuka akses sumber pembiayaan di pasar internasional, seperti global bond dan sukuk global untuk meningkatkan posisi tawar.
Serta keempat, penarikan pinjaman siaga yang sudah menjadi komitmen lembaga keuangan internasional dan yang belum dapat direalisasikan pada 2009. Pinjaman siaga dianggap lebih bermartabat ketimbang minta bantuan IMF.
Menurut Mega dalam diskusi tentang Realistiskah Asumsi RAPBN 2010 di Megawati Institut, Jalan Diponegoro, Jakarta, Kamis 6 Agustus 2009, pemerintah seharusnya bisa melihat kelemahan diri sendiri. Misalnya, kenapa tidak mencoba menghentikan utang. Mega mempertanyakan sikap pemerintah ini.
"Kenapa sekarang kita tidak menahan dulu, jangan berutang. Kalau nggak perlu betul, jangan. Tapi sepertinya sekarang pemikiran yang berkembang, kalau nggak ngutang mabuk nih, mabuk nggak bisa," cetus dia.
Pemerintah harusnya tidak hanya melihat persoalan makro ekonomi saja dengan meneropong negara-negara lain, tapi juga ke dalam yakni persoalan mikro ekonomi.
"Kita harus menggerakkan ekonomi mikro kita. Saya tidak akan mencoba mengkritisi RAPBN 2010 dari segi ekonomi karena saya bukan ahli ekonomi, tapi saya akan melihat dari segi ekonomi," kata dia.