VIVAnews – Krisis global yang bermula pada akhir 2008 membuat permintaan semen nasional turun hingga 7 persen.
Kondisi ini membuat PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), pada semester pertama 2009 membukukan penurunan volume penjualan hingga 17,7 persen menjadi 6,1 juta ton.
“Ini mengakibatkan penurunan pangsa pasar Indocement dari 32,5 persen menjadi 29,7 persen,” kata Direktur Utama Indocement Daniel Lavalle, dalam keterangan tertulisnya, Rabu malam, 29 Juli 2009.
Namun, volume penjualan domestik perseroan pada Juni telah menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan dengan bulan-bulan sebelumnya. "Ini sinyal positif bagi perseroan," ujar Daniel.
Volume penjualan ekspor turun sebesar -33,5 persen menjadi 0,8 juta ton pada semester pertama 2009, karena lemahnya pasar regional dalam empat bulan pertama 2009.
Namun di luar perkiraan, volume penjualan ekspor melonjak pada Mei. Keadaan ini diperkirakan akan cenderung berlanjut sampai akhir tahun.
Meski volume penjualan produsen Semen Tiga Roda ini mengalami penurunan, kondisi ini tidak menekan pendapatan bersih. Pendapatan Indocement justru naik 6,8 persen menjadi Rp 4,79 triliun.
Keberhasilan perseroan dalam mengontrol tingginya kenaikan biaya dan penurunan permintaan membuat beban pokok pendapatan turun 3,2 persen dan beban usaha turun 15,4 persen. Ini membuat laba usaha meningkat hingga 44,7 persen menjadi Rp 1,63 triliun.
Penurunan beban bunga dan beban keuangan lainnya menjadikan Indocement bisa membukukan laba bersih Rp 1,17 triliun atau meningkat hingga 51,8 persen dibandingkan semester pertama 2008. hadi.suprapto@vivanews.com