VIVAnews - Pengusaha properti kawakan, Ir Ciputra, memastikan bisnis properti tidak akan terganggu ledakan bom yang terjadi Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton yang terjadi Jumat 17 Juli 2009 lalu. Properti hanya terguncang jika bunga kredit melambung tinggi.
Apalagi tidak banyak konsumen luar negeri yang menggeluti, bahkan menjadi konsumen properti. "Bisa dibilang tidak ada. Kurang banyak (asing) yang berminat, karena Hak Guna Bangunan di Indonesia, hanya antara 30-39 tahun saja. Padahal di Singapura sampai 79 tahun," kata Ciputra disela-sela acara malam penganugerahan Indonesia Bussiness Award di Hotel Mulia, Rabu 22 Juli 2009 malam.
Dengan konsumen yang murni mengandalkan dalam negeri, ia yakin pengaruh ledakan bom itu dianggap tidak ada. "Bisnis properti hanya akan terpengaruh karena faktor bunga kredit yang melambung tinggi," kata dia
Ciputra hanya memprediksi akibat bom, bisnis perhotelan dan pembangunan hotel, akan berhenti untuk sementara waktu. Paling tidak, butuh waktu satu sampai dua tahun agar wisman mancanegara butuh keberanian yang kuat untuk kembali ke Indonesia.
Ciputra memperkirakan bisnis properti sudah akan mulai pulih pada kuartal empat 2009. Kondisi ini menyusul mulai membaiknya perekonomian global yang didukung faktor keamanan dalam negeri.
Kata dia, saat ini bisnis properti di Indonesia bisa dibilang stagnan. Tingkat permintaan sama sekali tidak tumbuh. "Waktu krisis kemarin penolakan kredit dari bank sampai 50 persen, sekarang sudah berangsur pulih antara 10-20 persen," ujar dia.
Kuartal satu dan dua tahun ini diakuinya sebagai tahun penderitaan bagi pengusaha properti. "Untunglah segera baik, kita waktu itu down payment sampai 30 persen, sekarang normal 10 persen. Bunga saat itu meloncat sampai 14 persen, sekarang sudah 10 persen," ujarnya. Faktor itu, kata dia, menjadi indikator awal bagaimana bisnis properti ini sudah akan mulai pulih.