VIVAnews - Kapitalisasi perbankan dunia menunjukkan penurunan dibanding akhir 2007. Namun, kinerja perbankan di Indonesia relatif lebih baik dibanding perbankan global.
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri Tbk Mirza Adityaswara mengungkapkan, pada 20 Mei 2009, kapitalisasi Bank of America hanya sebesar US$ 88 miliar, atau turun dibanding akhir 2007 yang mencapai US$ 163 miliar.
Penurunan juga dialami oleh Citibank menjadi US$ 20 miliar dari sebelumnya US$ 146 miliar.
Sementara itu, kapitalisasi UBS menjadi US$ 43 miliar dari sebelumnya US$ 95 miliar, dan Morgan Stanley sebesar US$ 36 miliar dibanding sebelumnya US$ 56 miliar.
"Namun, kapitalisasi HSBC global mampu bertumbuh menjadi US$ 192 miliar dari sebelumnya US$ 150 miliar," kata dia pada seminar bertajuk 'Riding The Wave of Global Economic Crisis' di Universitas Paramadina, Jakarta, Selasa 14 Juli 2009.
Mirza menambahkan, kapitalisasi perbankan dalam negeri jauh lebih baik dibanding perbankan global. Hal itu terutama disebabkan oleh penurunan kapitalisasi yang tidak sebesar perbankan global.
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk mencatatkan kapitalisasi sebesar US$ 7,6 miliar pada 20 Mei 2009, namun turun dibanding akhir 2007 yang mencapai US$ 9,7 miliar.
Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk menjadi US$ 8,5 miliar, atau turun dari US$ 9,6 miliar, PT Bank Mandiri Tbk menjadi US$ 5,8 miliar dibanding US$ 7,7 miliar, dan PT Bank Danamon Tbk sebesar US$ 3 miliar dari sebelumnya US$ 4,3 miliar.
Selain itu, PT Bank Negara Indonesia Tbk menjadi US$ 2,4 miliar dari akhir 2007 senilai US$ 3,2 miliar.
Penurunan kapitalisasi pasar tersebut, dia mengungkapkan, dapat memicu pengetatan likuiditas global. Selain itu, perbankan masih memilih menempatkan dananya pada instrumen yang dijamin pemerintah.
"Likuiditas antarbank di AS mulai membaik, namun masih didukung oleh fasilitas dari bank sentral," ujarnya.
Mirza menambahkan, korporasi masih sulit memperoleh pinjaman, karena kreditor memilih untuk menempatkan dananya pada instrumen yang bebas risiko.
Selain itu, dia mengungkapkan, credit default swap (CDS) Indonesia membaik secara signifikan menjadi 341 basis poin (bps) pada 24 Juni 2009 dari level tertinggi 1.256 bps pada Oktober 2008.
arinto.wibowo@vivanews.com
• VIVAnews