VIVAnews - Dewan Perwakilan Rakyat dan Pemerintah memperkirakan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2009 sampai akhir tahun mencapai 95,3 persen dokumen stimulus atau sebesar Rp 132,9 triliun.
Koordinator Panitia Kerja pelaksanaan realisasi anggaran Suharso Monoarfa mengatakan, defisit ini dipakai untuk pemulihan ekonomi seperti pemberian insetif, stimulus dan untuk belanja.
"Saat ini realisasi defisit APBN semester I, baru sebesar 0,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto, karena realisasi belanja pegawai dan transfer ke daerah yang lebih cepat," kata Suharso di DPR, dalam pembacaan Laporan Panja Dalam Pembahasan Laporan Pemerintah tentang Pelaksanaan APBN 2009, Senin malam, 13 Juli 2009.
Percepatan ini dilakukan untuk menjaga pertumbuhan ekonomi nasional tetap dalam zona positif.
Menurut dia, dari pembahasan realisasi pembiayaan semester satu 2009, besarnya sudah mencapai 34,3 persen atau Rp 47,8 triliun. Pembiayaan ini terdiri dari penerbitan Surat Berharga Negara neto telah mencapai Rp 69,2 triliun dan penarikan pinjaman luar negeri burto yang belum dioptimalisasi sebesar 16,8 triliun, serta pembayaran cicilan pokok utang luar negeri sebesar Rp 35 triliun.
Realisasi belanja pada semester I mencapai Rp 372,9 triliun atau 37,7 persen terhadap dokumen stimulus dengan pendapatan serta hibah sebesar Rp 367,2 triliun atau 43,3 persen dokumen stimulus.
Dengan realisasi ini, kondisi ekonomi semester I secara keseluruhan indikator ekonomi makronya bisa terjaga stabil pada pertumbuhan 4,1 persen . Selain itu tingkat inflasi juga berhasil dipertahankan pada level 3,65 persen dari target 6 persen, nilai tukar Rp 11.082 per dolar dari target Rp 11 ribu, suku bunga Sertifikat Bank Indonesia 3 bulan pada level 8,53 persen dari target 7,5 persen, dan harga minyak mentah Indonesia yang rata-rata pada kisaran US$ 51,6 per barel atau lebih tinggi dari target US$ 45 per barel.
Sedangkan untuk produksi minyak realisasi per semester satu ini bisa mencapai 957 ribu barel per hari atau lebih rendah dari target sebesar 960 ribu barel per hari.