VIVAnews - Meski pelaksanaan pemilihan presiden (Pilpres) berjalan lancar dan aman, sebagian pemodal cenderung menahan diri untuk mengakumulasi sejumlah saham.
Pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga relatif tidak menentu, dengan berfluktuasi tajam pada sesi pertama. Selanjutnya, IHSG bergerak mendatar dengan penurunan dan kenaikan yang terbatas.
Pada akhir perdagangan Kamis 9 Juli 2009, IHSG akhirnya hanya mampu menguat tipis 0,72 poin (0,03 persen) menjadi 2.083,97. Volume saham berpindah tangan mencapai 7,7 miliar unit senilai Rp 6,99 triliun dengan frekuensi 118.746 kali.
Sebanyak 68 saham menguat, 117 melemah, dan 70 saham stagnan.
Pengamat pasar modal Willy Sanjaya mengatakan, meski Pilpres relatif berjalan aman, pemodal masih mengantisipasi dampaknya dalam satu dua hari ke depan. Apalagi, harga minyak mentah dunia menunjukkan penurunan.
"Ini hanya reaksi sesaat, dan IHSG berpotensi melanjutkan kenaikan akhir pekan ini," kata dia kepada VIVAnews di Jakarta.
Menurut dia, potensi kenaikan IHSG pada akhir pekan ini akan ditopang oleh sentimen pergerakan bursa Eropa dan Dow Jones futures yang dibuka positif.
"Tidak tertutup kemungkinan bagi IHSG untuk menembus level 2.100 besok, atau Senin pekan depan," ujarnya.
Pada transaksi hari ini, saham-saham yang menopang penguatan IHSG di antaranya PT Astra International Tbk (ASII), mengguat tajam Rp 2.150 (9,15 persen) ke posisi Rp 25.650 dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik Rp 600 (9,23 persen) ke level Rp 7.100.
Sementara itu, di bursa regional, indeks Hang Seng menguat 69,52 poin (0,39 persen) menjadi 17.790,59, Nikkei 225 menjadi 9.291,06 atau melemah 129,69 poin (1,38 persen), dan Straits Times naik 51,39 poin (2,27 persen) ke posisi 2.311,16.
arinto.wibowo@vivanews.com
• VIVAnews