VIVAnews - Pesanan (order) ekspor mebel (furniture) rotan mengalami penurunan hingga 50 persen. Jauh di atas perkiraan semua, ekspor furniture rotan mengalami penurunan 31 persen.
"Kenyataannya lebih dari 50 persen," kata Presiden Direktur Rattanland Furniture sekaligus pengurus Asosiasi Mebel dan Kerajinan Indonesia (AMKRI) Tonton Taufik dalam Diskusi Interaktif Re-evaluasi Tata Niaga Ekspor Rotan Indonesia di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia, Jakarta, Kamis, 9 Juli 2009.
Menurut Tonton, penurunan sebanyak 31 persen hanya dari segi volume. Sedangkan komposisi kenaikan harga bahan baku dan upah buruh tidak termasuk di dalamnya. Karena itu, secara keseluruhan order ekspor rotan melorot lebih dari 50 persen.
Sejak pemberlakuan Permendag No. 12/2005 tentang Ekspor Rotan, menurutnya, harga bahan baku rotan naik sebesar 30 persen. "Akibatnya permintaan buyer luar negeri menurun karena furniture kita tidak bisa bersaing," ujarnya.
Negara tujuan ekspor mebel seperti Eropa, Amerika Serikat, dan Timur Tengah, dikatakannya, lebih memilih produk China, Vietnam, dan Filipina. Padahal, negara-negara kompetitor kita itu memakai bahan baku dari Indonesia. "Seperti email yang saya terima tadi pagi dari eksportir mebel dari China menawarkan mebel produksinya ke Indonesia yang ternyata bahan baku rotannya berasal dari Indonesia. Sedih membaca (email)-nya," kata dia.
Keterbatasan bahan baku untuk industri dalam negeri menjadi alasan utama AMKRI meminta ketentuan ekspor rotan segera dicabut. "Penjualan kami sudah turun drastis, jangan sampai industri keburu mati. Saya minta Permendag langsung dicabut saja, tidak perlu direvisi," ujarnya. Beberapa industri di Solo, Cirebon, Gresik, Surabaya, dia menambahkan, sudah mengalami penurunan produksi.
Industri furniture dalam negeri, Tonton menjelaskan, hanya menggunakan 3 persen bahan baku rotan padahal 80 persen bahan baku rotan dunia berasal dari Indonesia. "Batas maksimal ekspor bahan baku rotan tidak tercapai tapi sebaliknya bahan baku rotan selalu habis. Apakah eksportir bahan baku menulis komoditi "rattan furniture" di invoicenya?" kata Tonton.
Penjualan mebel rotan pada 2008 secara jumlah kontainer diakui Tonton turun dengan nilai US$ 319 juta. "Dulu jumlah kontainer bisa sampai 2 ribu kontainer, sejarang hanya 300 kontainer," kata dia. hadi.suprapto@vivanews.com
• Menurut penghitungan quick count SBY-Boediono menang. Benar atau salah? Dapatkan SMS data suara Pilpres 2009 dari tabulasi resmi KPU. Updated 2 kali per hari hingga pengumuman pada 27 Juli 2009. Ketik REG<spasi>HASIL kirim ke 9386. Hanya Rp. 1000/SMS
• Untuk mengenang kepergian Michael Jackson, aktifkan RBT Michael Jackson sekarang juga DI SINI