VIVAnews - Kementerian Negara Badan Usaha Milik Negara mengharapkan utang Rekening Dana Investasi/Subsidiary Loan Agreement di sejumlah perusahaan pemerintah dialihkan menjadi penyertaan modal negara.
"Agar BUMN bisa menjadi lebih besar," kata Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil di kantornya, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin, 6 Juli 2009.
Menurut Sofyan Djalil, penyelesaian utang RDI/SLA BUMN harus dilakukan dalam rangka restukturisasi perusahaan agar kondisi keuangan menjadi lebih baik.
Mengenai utang RDI/SLA milik PT Telekomunikasi Indonesia Tbk, Sofyan mengaku belum mengetahui hal itu. Selain itu, pembicaraan mengenai niat PT Bank Negara Indonesia Tbk menalangi utang RDI Telkom sebesar Rp 2 triliun juga belum dilakukan.
"(Kalau bisa ditalangi) potensinya bagus, langkah itu bisa menyelesaikan masalah utang Telkom. Mungkin Telkom memiliki banyak uang," ujar dia.
BUMN yang memiliki utang dalam bentuk pinjaman RDI/SLA mencapai 29 perusahaan dengan total nilai Rp 14,54 triliun. Utang tersebut terdiri dari mata uang lokal Rp 7,37 triliun, mata uang asing sebesar US$ 715,09 juta, 48,60 juta Mark Jerman, dan 16,31 juta Euro.
Kementerian mengaku masih menunggu penjelasan dari Departemen Keuangan seputar mekanisme percepatan pembayaran utang RDI/SLA tersebut. hadi.suprapto@vivanews.com