Bisnis

Harga Minyak Terus Merosot Mendekati US$66

Harga minyak mentah saat ini tidak mencapai setengah dari harga satu tahun lalu

Jum'at, 3 Juli 2009, 08:10 WIB
Renne R.A Kawilarang, Harriska Farida Adiati
Reaksi para pialang di New York melihat pergerakan harga minyak (AP Photo/Mary Altaffer)

VIVAnews - Harga minyak mentah di bursa NYMEX New York kini berada di posisi US$66,73 per barel setelah turun US$2,58 per barel, Kamis sore 2 Juli 2009 waktu setempat (Jumat dini hari WIB).

Padahal, satu tahun lalu, tepatnya 3 Juli 2008, harga minyak mencapai rekor tertinggi, US$145,29 per barel. Ini berarti harga minyak dunia saat ini tidak mencapai setengah dari harga satu tahun lalu.

Di antara masa itu, peningkatan permintaan global berganti menjadi pelemahan ekonomi global yang menjatuhkan harga minyak hingga mencapai US$33,87 pada Desember.

Satu tahun lalu, kenaikan harga minyak dipicu oleh dua faktor. Pertama adalah munculnya kekuatan ekonomi baru seperti China, India, dan Rusia, bersaing dengan Amerika Serikat dan negara Barat. Faktor lain adalah melemahnya nilai dolar AS, mata uang yang digunakan dalam transaksi minyak mentah.

"Tahun lalu, nilai dolar AS melemah dan pada saat yang sama, permintaan sangat kuat," kata James Cordier, pendiri OptionSellers.com, broker komoditas, seperti dikutip dari laman stasiun televisi CNN.

Namun, tingginya harga minyak membuat permintaan terkekang. Kemudian, bangkrutnya sektor perumahan AS dan tidak stabilnya sektor perbankan yang diikutinya bangkrutnya Lehman Brothers mulai membebani ekonomi dunia, terutama di AS, negara konsumen minyak terbesar.

"Tahun ini, nilai dolar AS memang melemah, tetapi permintaan tidak menguat," kata Cordier. Dia memperkirakan, reli harga minyak belakangan ini akan berakhir. "Ketika wacana utama pada Agustus dan September menunjukkan bahwa tingkat pengangguran mencapai 10 persen, itu akan mengejutkan sistem investor, lalu minyak akan mulai diperdagangkan pada harga fundamentalnya. Itu berarti minyak akan berada di kisaran US$50 hingga US$55 per barel," terang Cordier.

Jumat lalu, pemerintah AS melaporkan bahwa tingkat pengangguran mencapai 9,5 persen untuk bulan Juni.

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau 
  
webtorial