VIVAnews - Penyerapan anggaran Departemen Perindustrian (Depperin) tercatat masih rendah dengan realisasi sebesar 32,71 persen.
Berdasarkan laporan Menteri Perindustrian kepada Komisi Perdagangan dan Perindustrian DPR RI, realisasi anggaran departemen hingga 30 Juni 2009 hanya mencapai Rp 458,85 miliar dari Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) tahun 2009 sebesar Rp 1,403 triliun.
"Beberapa alasan menjadi penyebab rendahnya realisasi anggaran, seperti siklus pencairan program restrukturisasi tekstil, gula, dan alas kaki, atau beberapa kegiatan yang baru dilaksanakan pada semester kedua tahun ini," ujar Menteri Perindustrian Fahmi Idris saat Rapat Kerja dengan Komisi Perdagangan dan Perindustrian DPR RI, Kamis, 2 Juli 2009.
Program restrukturisasi tiga sektor industri dengan pagu anggaran sebesar Rp 360 miliar tersebut, menurut Fahmi, baru mencapai tahap seleksi calon penerima bantuan yang dilakukan oleh konsultan. "Menurut siklusnya baru terjadi sekitar bulan September 2009," kata dia.
Keterlambatan tersebut dikarenakan persiapan administrasi dan kelembagaan yang baru selesai bulan Maret 2009, perpanjangan pendaftaran peserta hingga 31 Juli 2009, dan proses permohonan yang memakan waktu empat hingga lima bulan.
Sementara itu, rendahnya realisasi anggaran juga akibat keterlambatan realisasi dana dekonsentrasi sebesar Rp 62,11 miliar dan tugas perbantuan sebesar Rp 53,14 miliar pada Ditjen Industri Kecil dan Menengah karena perubahan nomenklatur Dinas dan Pengisian Pejabat di daerah.
"Alasan lainnya, karena keterlambatan pelaksanaan bantuan pembangunan terminal kayu di Jawa Tengah sebesar Rp 13 miliar yang seharusnya pada April 2009, ternyata tidak bisa direalisasikan karena permasalahan di pemda," ujarnya. Sedangkan revisi anggaran untuk mendapatkan persetujuan Menteri Keuangan sedang dalam proses.
Selain itu, kontrak-kontrak pekerjaan melalui lelang yang sudah dibayarkan baru sekitar Rp 49 miliar (44 persen) dari total nilai kontrak sebesar Rp 111,48 miliar.
antique.putra@vivanews.com