VIVAnews - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia pada akhir transaksi sesi II Kamis, 2 Juli 2009, masih menguat setelah berusaha menembus level psikologis 2.100.
Menurut analis PT BNI Securities Maxi Liesyaputra, penguatan harga logam yang signifikan terutama harga nikel dan timah yang menjadi andalan ekspor Indonesia memberikan sentimen positif terhadap pergerakan IHSG menjelang akhir pekan ini.
"Penguatan kurs rupiah yang signifikan dan sempat menembus Rp 10.140/US$ pada pagi tadi dan pergerakan positif Dow Jones semalam turut menjadi katalis," ujarnya melalui riset yang diterima VIVAnews di Jakarta, Kamis, 2 Juli 2009.
Pada penutupan transaksi sesi II, Kamis, IHSG menguat 5,87 poin atau 0,28 persen ke level 2.065,75. Sedangkan pada akhir sesi I tadi, indeks sempat menguat 17,03 poin (0,83 persen) di posisi 2.076,91.
Total nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp 3,30 triliun dengan frekuensi 86.494 kali. Sebanyak 83 saham menguat, 130 melemah, 57 ditutup stagnan, serta 189 saham tidak terjadi transaksi.
Pemodal asing melakukan pembelian saham Rp 692,84 miliar, sedangkan penjualan mencapai Rp 338,05 miliar.
Bursa Asia saat IHSG tutup bergerak negatif. Hang Seng Index melemah 200,68 atau 1,09 persen menjadi 18.178,05, Nikkei 225 turun 63,78 poin (0,64 persen) ke level 9.876,15, dan indeks Straits Times terkoreksi 35,03 atau 1,49 persen di posisi 2.317,52.
Di Bursa Efek Indonesia, saham-saham unggulan (blue chips) yang mengalami penguatan harga besar antara lain PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) yang terangkat Rp 300 (3,79 persen) di level Rp 8.200, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menguat Rp 300 atau 3,09 persen menjadi Rp 10.000, dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) naik Rp 150 (2,32 persen) menjadi Rp 6.600.
antique.putra@vivanews.com