VIVAnews - Pertumbuhan ritel, baik modern maupun tradisional, diperkirakan anjlok hingga 11 persen pada tahun ini.
Nielsen Company memprediksi pertumbuhan ritel tahun ini akan bergerak single digit dengan pertumbuhan penjualan hanya sekitar 9-10 persen. "Baru pertama (pertumbuhan industri ritel) Indonesia single digit, biasanya double digit," kata Associate Director Retailer Services Nielsen Company Indonesia Febby Ramaun di Jakarta, Kamis, 2 Juli 2009.
Tahun 2008, menurut survey Nielsen, terjadi pertumbuhan penjualan sebesar 21,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya dengan nilai penjualan sebesar Rp 94,5 triliun.
Febby menjelaskan, pada periode Januari hingga Mei 2009, ritel Indonesia mengalami pertumbuhan 6,5 persen untuk 53 kategori produk bermerek, tidak termasuk rokok, dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Sepanjang lima bulan pertama, penjualan ritel baik modern maupun tradisional mencapai Rp 39,883 triliun. "Diharapkan akan ada peningkatan setelah Juni dan mendekati puasa," ujarnya.
Produk rokok dikeluarkan dari penghitungan karena nilai penjualan yang signifikan besar dibandingkan produk lain. "Penjualan rokok sama dengan nilai penjualan 53 katoegori produk lainnya," ujarnya.
Dari 53 kategori yang disurvey Nielsen, sebanyak 10 produk bermerek menempati peringkat teratas, yakni mie instan, minyak goreng, susu bubuk, detergen, kopi, biskuit, susu kental manis, sabun, shampoo, dan perawatan kulit.
Meski demikian, minyak goreng tercatat mengalami pertumbuhan penjualan negatif sebesar 21,2 persen. "Konsumen beralih ke minyak goreng curah karena harganya lebih murah," ujarnya. hadi.suprapto@vivanews.com