VIVAnews - Harga minyak kembali turun, kali ini mendekati US$69 per barel. Penurunan terjadi setelah data pemerintah Amerika Serikat (AS) menunjukkan bahwa stok bahan bakar minyak (BBM) masih menumpuk menjelang hari libur kemerdekaan AS, yang jatuh pada 4 Juli nanti. Padahal, hari libur nasional tersebut biasanya merupakan puncak di mana orang-orang bepergian.
Dalam perdagangan di bursa NYMEX New York, Rabu sore waktu setempat (Kamis dini hari), harga minyak mentah light sweet untuk kontrak Agustus melemah 58 sen ke posisi US$69,31 per barel, setelah sebelumnya sempat naik ke posisi US$71,85 per barel.
Ternyata stok BBM di AS, menurut Administrasi Informasi Energi, meningkat sebesar 2,3 juta barel pada pekan lalu. Jumlah ini melebihi prediksi analis.
Produk hasil penyulingan lain, termasuk diesel, meningkat sebesar 2,9 juta barel. Sedangkan simpanan minyak mentah jatuh sebesar 3,7 juta barel.
"Kenyataan bahwa stok BBM naik 2,3 juta barel menjelang 4 Juli sangat besar," kata Stephen Schork, editor untuk The Schork Report, seperti dikutip dari laman stasiun televisi CNN. Dia menambahkan, "Permintaan rendah."
Krisis ekonomi telah menghantam permintaan bahan bakar, menyebabkan harga minyak jatuh dari rekor harga tinggi di atas US$147 barel pada Juli tahun lalu.
Namun, optimisme bahwa kemungkinan pemulihan ekonomi bisa meningkatkan permintaan telah mengangkat harga minyak dari harga rendah sekitar US$33 per barel pada Desember tahun lalu.
• VIVAnews