VIVAnews - Sepanjang pekan ini, bursa regional menguat menyusul sinyal pulihnya perekonomian global dari resesi terburuk sejak 1930.
Harga komoditas juga rebound dan diawali dengan kenaikan harga minyak mentah setelah sempat merosot ke level US$ 67 per barel pada pekan sebelumnya.
Nilai tukar rupiah yang di awal pekan sempat anjlok ke level 10.500/US$, berangsur menguat hingga kembali ke posisi 10.200/US$.
Sementara itu, indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang pekan ini menguat 2,5 persen dari pembukaan di level 1.990,47 hingga penutupan 2.040,19.
"Meski demikian, penguatan indeks diwarnai aksi ambil untung (profit taking) yang terjadi pada sesi kedua perdagangan Jumat (26 Juni 2009)," kata analis PT Panin Sekuritas Purwoko Sartono dalam ulasan pasarnya di Jakarta, akhir pekan ini.
Menurut dia, investor mulai merealisasikan keuntungan setelah dua hari terakhir indeks menguat signifikan.
Saham-saham yang menjadi pendorong kenaikan indeks pekan ini antara lain PT Astra International Tbk (ASII), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Semen Gresik Tbk (SMGR), PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP).
Rekomendasi
Purwoko menambahkan, pekan depan, indeks diperkirakan bergerak mendatar (sideways) dengan kecenderungan menguat terbatas.
"Saham pertambangan masih akan menjadi pendorong indeks pada awal pekan, menyusul masih kuatnya harga komoditas," ujar dia.
Beberapa data makroekonomi seperti inflasi dan suku bunga acuan (BI rate) akan menjadi sentimen yang dapat menggerakkan indeks pekan depan.
Secara teknikal, dia menambahkan, dari weekly chart, terlihat indeks cenderung bergerak mendatar. "Sementara itu, kisaran support-resistance pada kisaran 2.021-2.067," kata dia.
arinto.wibowo@vivanews.com
• VIVAnews