VIVAnews - Harga minyak mentah naik di atas US$ 69 per barel pada Kamis 25 Juni 2009, setelah pemerintah Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa ekonomi mungkin lebih baik dari perkiraaan sebelumnya.
Dalam revisi data produk domestik bruto (PDB) kuartal pertama 2009, Departemen Perdagangan melaporkan adanya penurunan secara tahunan sebesar 5,5 persen dari Januari hingga Maret 2009, dibanding 5,7 persen yang dilaporkan bulan lalu.
Perlambatan ekonomi telah memangkas permintaan energi karena sebagian pabrik tutup dan hanya sedikit orang yang menggunakan kendaraan mereka ke tempat kerja.
Bahkan, sebagian masyarakat mengambil liburan dengan melakukan perjalanan dengan pesawat.
Harga patokan minyak untuk pengiriman Agustus naik 62 sen menjadi US$ 69,29 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, di London, harga minyak Brent naik 71 sen menjadi US$ 69,04 per barel di ICE Futures exchange.
Fluktuasi nilai tukar dolar AS ikut berperan kuat terhadap kenaikan harga minyak mentah tersebut.
Harga minyak mentah jatuh setelah mencapai puncaknya pada US$ 73 per barel awal bulan ini, karena penguatan dolar AS.
Mayoritas ahli sepakat, harga minyak di Nymex, dan gas lokal tertekan karena tidak didukung oleh permintaan energi. Mereka menyalahkan investasi yang terus mengalir ke pasar, dengan menggunakan minyak sebagai lindung nilai inflasi.
Namun, sumber lain mengatakan, kenaikan harga minyak diduga karena penutupan salah satu saluran pipa minyak milik Royal Dutch Shell (RDSa.L) oleh kelompok militan utama Nigeria.
Penutupan itu dikhawatirkan dapat menghambat pasokan minyak dari daerah. (AP)
arinto.wibowo@vivanews.com
• VIVAnews