Harga Minyak Berhasil Lewati US$67

Ekspektasi investor atas naiknya permintaan BBM di AS untuk liburan musim panas berlebihan

Rabu, 24 Juni 2009, 08:06 WIB
Renne R.A Kawilarang
Reaksi para pialang di New York melihat pergerakan harga minyak (AP Photo/Mary Altaffer)

VIVAnews - Harga minyak mentah di bursa utama dunia tetap loyo kendati sudah melewati level US$67/barel. Pasalnya, dalam beberapa hari terakhir pelaku pasar diliputi keraguan akan percepatan pemulihan ekonomi Amerika Serikat (AS). Buktinya, tingkat permintaan bahan bakar minyak (BBM) untuk keperluan libur musim panas belum meningkat secara signifikan.

Menurut laman The Wall Street Journal, itulah sebabnya dalam perdagangan di bursa NYMEX, New York, Selasa siang waktu setempat (Rabu dini hari WIB) harga minyak mentah light sweet untuk kontrak Agustus turun 6 sen menjadi US$67,44/barel. Di bursa ICE London, harga minyak Brent untuk kontrak Agustus turun 11 sen menjadi US$66,87/barel.

Pelaku pasar juga was-was dengan laporan dari Departemen Energi AS medio pekan ini bahwa jangan-jangan pasokan BBM terus meningkat. Artinya, tingkat permintaan pun belum bangkit.

Padahal, setiap tahun sudah tradisi bahwa banyak keluarga di Amerika melewatkan musim panas dengan berlibur ke tempat jauh sehingga kebutuhan BBM pun selalu melonjak. Namun tradisi itu dalam setahun terakhir runyam akibat resesi ekonomi.

Padahal, awal Juni para investor sudah optimistis permintaan minyak mentah bakal meningkat sehingga sempat memicu harga menjadi US$73/barel. Namun sejak saat itu harga terus turun hingga di bawah US$70 bersamaan dengan respon investor yang sadar bahwa ekspektasi mereka ternyata berlebihan.
 
"Saat ini, sulit untuk membangkitkan lagi ekspektasi untuk mendongkrak harga di tengah situasi pasar yang melemah," kata Mark Pervan, pengamat dari ANZ Bank di Melbourne.
   
Pelaku pasar minyak pun kini menanti reaksi dari bursa saham Wall Street, yang juga tengah menanti keputusan rapat Bank Sentral AS mengenai situasi terkini dan proyeksi ekonomi ke depan. Selain itu mereka juga menunggu keputusan Bank Sentral dalam menetapkan tingkat suku bunga.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ