VIVAnews - Pemerintah akan mendorong nilai ekspor Indonesia dalam lima tahun ke depan bisa mencapai 30-35 persen produk domestik bruto (PDB).
Target ini menurut Deputi Menko Perekonomian Bidang Industri dan Perdagangan, Edy Putra Irawadi sangat realistis, karena potensi Indonesia memang cukup tinggi.
Menurut Edy, produk-produk asal Indonesia cukup banyak variasinya.
"Jangan sampai kita hanya fokus produk tradisional yang besar-besar seperti udang, sepatu, tekstil, dan ikan," katanya di Kantor Menko Perekonomian, Selasa 23 Juni 2009.
Dia juga menekankan Indonesia jangan hanya bersaing kaos kaki dengan Vietnam juga Myanmar. "Maaf saja, produk manusia Indonesia bukan kelasnya mereka," kata dia. Maksudnya, produk Indonesia lebih baik dari kedua negara itu.
Indonesia sebagai negara besar dan kaya sumber daya alam, memiliki produk yang nilainya besar-besar dan cukup banyak. Produk ini misalnya berupa teknologi baru, jasa konstruksi, pengobatan herbal dan lain sebagainya.
Pemerintah Indonesia diakui memang belum bisa mendorong perusahaan dalam negeri, menjadi eprusahaan yang 'go Internasional'. Sebagai contoh, dalam pemasaran produk komoditi baru yang besar seperti udang, ikan, tekstil, sepatu, dan CPO, Indonesia beum ada perusahaan perdagangan yang mandiri.
"Kita masih tergantung perusahaan dagang internasional," katanya.
Sehingga ketika negara-negara bersangkutan terkena krisis dan perusahaan perdagangan tersebut terkena dampaknya, perdagangan Indonesia juga ikut terkena.
Keterbatasan ini, menurut Edy, akan diselesaikan oleh pemerintah dengan membentuk tim negosiasi dan mempromosikan pembiayaan, salah satunya dibentuk Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI).