Pasar Fisik CPO Diluncurkan

Pasar CPO dunia masih mengacu pada pasar fisik Rotterdam.

Selasa, 23 Juni 2009, 10:50 WIB
Hadi Suprapto, Elly Setyo Rini
Pekerja sedang memasukkan minyak sawit (CPO) ke kapal tongkang. (VIVAnews/Tri Saputro)

VIVAnews - Hari ini, Selasa 23 Juni 2009, pasar fisik minyak sawit mentah (CPO) terorganisir diluncurkan secara online pertama di Indonesia. Peluncuran perdana dilakukan bersama Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil, dan Direktur Utama Bursa Berjangka Jakarta Hasan Zein Mahmud di Hotel Four Season, Jakarta.

"Pasar CPO dunia masih mengacu pada pasar fisik Rotterdam dan basis penetapan harga CPO dunia juga masih berpedoman pada Pasar Berjangka di Kuala Lumpur (MDEX)," kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu dalam sambutannya. Menurut dia, penggunaan referensi harga CPO itu tidak selamanya menguntungkan posisi para pelaku usaha atau eksportir Indonesia.

Sehingga, Mari mengatakan, sebagai produsen dan eksportir CPO utama dunia, Indonesia berpeluang menjadi negara acuan dalam penetapan harga CPO internasional. "Untuk itu Indonesia perlu membentuk pasar fisik CPO terorganisir yang kuat dan transparan, serta didukung pihak perkebunan nasional dan swasta, pedagang atau eksportir, dan pemerintah," kata Mari.

Dengan terbentuknya pasar fisik CPO terorganisir secara online di Bursa Berjangka Jakarta, menurut Mari, harga yang terbentuk dapat menjadi harga CPO nasional yang terpadu dan sekaligus menjadi harga acuan CPO di internasional. "Sehingga akan terwujud pasar spot komoditas CPO yang mampu memberikan pelayanan optimal," ujarnya.

Menteri Negara BUMN Sofyan Djalil menjelaskan, komposisi produsen CPO secara garis beras dihasilkan oleh Perkebunan Rakyat yakni sebesar 34 persen, Perkebunan Swasta sebesar 52 persen dan sisanya dihasilkan oleh PT Perkebunan Nusantara sebesar 14 persen. Peluncuran secara perdana akan diikuti perusahaan BUMN dari PT Perkebunan Nusantara dan Rajawali Nusantara Indonesia. 

Pada 2008, volume ekspor CPO beserta turunannya mencapai 14,29 juta ton dengan nilai US$ 12,37 miliar atau 11,47 persen dari total nilai ekspor non migas Indonesia. Di pasar internasional, Indonesia merupakan eksportir kedua terbesar dengan pangsa 29,29 persen dari total ekspor CPO dunia. Sejak 2006, Indonesia merupakan produsen CPO terbesar di dunia.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ