Harga Minyak Jatuh Sampai di Bawah US$67

Ini merupakan level terendah dalam tiga pekan terakhir

Selasa, 23 Juni 2009, 08:12 WIB
Renne R.A Kawilarang
Seorang pialang sedih dengan anjloknya harga saham (AP Photo/David Karp)

VIVAnews - Harga minyak mentah di bursa utama dunia mengalami kemerosotan drastis hingga turun pangkat dari level US$70/barel menjadi di bawah US$67/barel. Ini merupakan level terendah dalam tiga pekan terakhir akibat aksi jual berjamaah dari para investor, yang tak yakin dengan meningkatnya permintaan bahan bakar minyak (BBM) di Amerika Serikat (AS).

Laman The Wall Street Journal mengungkapkan bahwa dalam perdagangan di bursa NYMEX, New York, Senin sore waktu setempat (Selasa dini hari WIB), harga minyak light sweet untuk pasokan Juli turun US$2,62 (3,8 persen) menjadi US$66,93/barel. Bersamaan dengan berakhirnya kontrak untuk pasokan Juli, harga minyak untuk pasokan Agustus juga turun, yaitu US$2,52 (3,6 persen) menjadi US$67,50.

Sementara itu, harga minyak Brent di bursa ICE London turun US$2,21 (3,2 persen) menjadi US$66,98/barel.

Investor rupanya langsung tak yakin akan tingginya permintaan BBM di AS jelang liburan musim panas, menyusul laporan dari pemerintah pekan lalu atas kenaikan tajam pasokan BBM. Data itu langsung menghentikan reli harga BBM di pasaran yang sempat mencetak rekor tertinggi dalam 8 bulan terakhir. 
  
Biasanya, permintaan BBM selama libur musim panas di AS sangat besar. Namun, gara-gara resesi ekonomi, banyak keluarga tahun ini mengurungkan niat untuk berlibur ke tempat jauh. Tingginya angka pengangguran juga menyebabkan anjloknya jumlah pengguna angkutan umum.

"Pasar ternyata tidak seketat seperti yang telah diduga sejumlah pelaku," kata Antoine Halff, pengamat dari Newedge Group. Kurs dolar yang mulai bangkit juga memukul harga minyak mentah. Kini para investor mengalihkan dana mereka dari aset-aset yang lebih berisiko, seperti minyak mentah, ke pasar yang lebih stabil.

Selain itu, pasar ekuitas juga tengah anjlok menjelang pertemuan pimpinan Bank Sentral. Mereka, selain mengumumkan jadi tidaknya merubah tingkat suku bunga, juga akan memaparkan proyeksi ekonomi AS.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ