Harga Minyak Terus Merosot di Bawah US$70

Selain itu muncul lagi sabotase pada jaringan minyak di Nigeria

Senin, 22 Juni 2009, 16:30 WIB
Renne R.A Kawilarang, Harriska Farida Adiati
  (www.dpi.vic.gov.au)

VIVAnews - Harga minyak mentah sejak akhir pekan lalu terus turun dan kini mendekati US$ 69 per barel. Investor khawatir atas masih lemahnya ekonomi Amerika Serikat (AS) saat transaksi minyak untuk kontrak bulan Juli berakhir hari ini dan muncul lagi sabotase di produsen terbesar Afrika, Nigeria.

Itulah sebabnya harga minyak mentah light sweet untuk pengiriman Juli jatuh 22 sen menjadi US$69,33 per barel dalam perdagangan elektronik di bursa New York Mercantile Exchange (Nymex), Senin sore 22 Juni 2009 waktu Singapura. Jumat pekan lalu, harga minyak turun US$1,82 per barel menjadi US$69,55/barel.

Sementara itu, harga minyak Brent di London, Inggris, menguat 17 sen menjadi US$69,36 per barel. Kontrak untuk Agustus jatuh 15 sen menjadi US$69,87.

Padahal, harga minyak meningkat ke level US$ 73,23 per barel di awal Juni berkat optimisme investor bahwa ekonomi AS, yang mengalami resesi terburuk dalam beberapa dekade terakhir, akan tumbuh pada akhir 2009.

Namun, data ekonomi AS belakangan ini muncul beragam, pertanda bahwa ekonomi di Negeri Paman Sam itu masih berjuang untuk bangkit. Buktinya, indeks harga saham industri Dow Jones di bursa Wall Street jatuh 3 persen pekan lalu. "Harga minyak berada di puncak dalam jangka pendek," kata Victor Shum, analis energi di perusahaan konsultan Purvin & Gertz, Singapura.

Pekan ini, para pialang minyak akan menantikan kabar tentang permintaan konsumen dari laporan Departemen Perniagaan terkait tingkat belanja konsumen.

Sementara itu, Minggu kemarin, militan dari Gerakan untuk Emansipasi Delta Nigeria mengatakan bahwa mereka menyerang dua saluran pipa milik perusahaan minyak Royal Dutch Shell di Nigeria Selatan.

"Serangan yang terjadi belakangan ini tidak terlalu berimbas pada harga minyak karena ada banyak kapasitas produksi," kata Shum. "Minyak ada di mana-mana," lanjut Shum. (AP)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ