Harga Minyak Stabil di Atas US$71/barel

Minyak mentah dianggap sebagai hedging yang menarik di tengah kekhawatiran adanya inflasi

Jum'at, 19 Juni 2009, 15:35 WIB
Renne R.A Kawilarang, Harriska Farida Adiati
kilang minyak offshore (orrtextile.com)

VIVAnews - Harga minyak mentah di bursa utama dunia tetap stabil di atas US$ 71 per barel. Pasalnya, muncul kekhawatiran bahwa besarnya pengeluaran fiskal Amerika Serikat (AS) akan memicu terjadinya inflasi, sehingga minyak dan komoditas lain dianggap sebagai hedging menarik.

Harga minyak mentah light sweet untuk pasokan Juli naik 10 sen menjadi US$ 71,47 per barel dalam transaksi elektronik di bursa NYMEX New York, Jumat siang waktu Singapura. Sedangkan harga minyak Brent di bursa ICE London meningkat 20 sen menjadi US$ 71,26 per barel. Kemarin, minyak berada pada harga US$ 71,37 setelah naik 34 sen.

Minyak telah naik hingga berada di atas US$ 70 per barel pekan ini, mendekati harga tinggi dalam delapan bulan terakhir, berkat optimisme investor bahwa ekonomi global sedang dalam proses menuju kestabilan.

Pialang juga membeli minyak, yang harganya naik dua kali lipat sejak Maret, dan komoditas lain sebagai proteksi terhadap inflasi dan melemahnya nilai tukar dolar AS.

"Sebagai sebuah hedging inflasi, minyak sangat populer saat ini," kata Christoffer Moltke-Leth, kepala penjualan di Saxo Capital Markets, Singapura. "Tema pasar adalah ketakutan akan inflasi, dan sekarang makin menjadi. Minyak mentah dilihat sebagai taruhan aman dalam situasi seperti ini."

Sejauh ini, tingkat inflasi tetap rendah, dengan beberapa negara tergelincir ke dalam deflasi di tengah resesi parah. Namun para analis khawatir bahwa dana stimulus pemerintah, terutama di AS, dan meningkatnya harga-harga komoditas mendorong harga lebih naik pada akhir tahun ini. (AP)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ