VIVAnews - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia MS Hidayat mengatakan, saat ini industri tidak dapat mengandalkan sumber daya alam untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan. Pelaku bisnis perlu mengubah pola pikir dengan membuat kebijakan yang bersifat ramah lingkungan.
"Ini trend global, karena kita semua menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan terbatasnya sumber daya alam," kata dia di Jakarta, Senin 15 Juni 2009.
Untuk itu Kadin berkomitmen penuh mendukung perekonomian berkelanjutan bersama pemerintah dan para pemangku kepentingan lain. Apalagi saat ini Daya Saing Indonesia naik pada peringkat 42 dunia, dibandingkan dengan tahun lalu pada peringkat 51.
"Peningkatan daya saing membutuhkan pengelolaan industri berwawasan lingkungan," ujarnya.
Untuk itu, Kadin siap mendukung penyelenggaraan Konferensi dan Pameran Eco Products International Fair (EPIF) 2010 di Balai Sidang Jakarta, pada 4-7 Maret 2010. Konferensi itu diselenggarakan sesuai keputusan Asia Productivity Organization (APO) sebagai penyelenggara acara tahunan Eco Products International Fair pada sidang Green Productivity Advisory Committe (GPAC) di Tokyo Januari 2009 lalu, di mana diputuskan Indonesia ditunjuk sebagai tuan rumah EPIF 2010.
Acara itu untuk mempromosikan kesadaran produk dan jasa berbasis lingkungan. EPIF pertama diselenggarakan di Malaysia pada 2004, selanjutnya Thailand (2005), Singapura (2006), dan Vietnam (2008). Pada penyelenggaraan di Manila-Filipina Maret lalu, tercipta rekor pengunjung sebanyak 83.000.
Indonesia menargetkan dalam pameran itu dapat dihadiri 100 ribu pengunjung. Eco products adalah produk dan jasa yang sesuai dengan peraturan tentang lingkungan yang merefleksikan upaya sukarela perusahaan-perusahaan untuk menunjukkan kepedulian pada lingkungan.