VIVAnews - Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono memperkirakan dengan metode purchasing power parity (PPP), dalam sembilan tahun mendatang pendapatan per kapita masyarakat Indonesia bisa mencapai US$ 6.600.
Metode PPP merupakan perhitungan pendapatan yang sudah menghilangkan bias harga setempat. Artinya, kata Tony, pendapatan per kapita Indonesia yang mencapai US$ 1.300 saat ini, jika dihitung berdasarkan PPP sebetulnya sudah mencapai US$ 4.000.
"Angkanya sebesar itu (US$ 1.300) karena terkoreksi harga barang di Indonesia yang relatif lebih murah dibanding Amerika Serikat," katanya dalam diskusi peluncuran buku Boediono yang berjudul "Ekonomi Indonesia Mau ke Mana?" di Gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin 15 Juni 2009.
Pendapatan sebesar itu, kata dia, tak mustahil diperoleh jika ekonomi berjalan dengan baik. Karenanya ia berharap pemerintahan ke depan bisa mewujudkan itu. Dia percaya Boediono yang kini menjadi cawapres akan membawa Indonesia pada jalur yang benar karena pengetahuannya yang dalam tentang ekonomi.
Karenanya ia yakin Boediono tidak akan menerapkan sistem neoliberal seperti yang sengaja dihembuskan beberapa pihak. Neoliberal, kata dia, hanyalah sebuah resep generik untuk mengatasi ekonomi di Amerika Latin yang tidak mungkin diserap seluruhnya oleh Indonesia.
"Saya yakin Boediono tidak akan mungkin menerapkan liberalisasi pasar karena kita tahu itu konyol," katanya. Apalagi saat ini kejatuhan Amerika menjadi contoh nyata.