VIVAnews - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan, status ekspor Indonesia pada kuartal dua ini, kemungkinan masih akan negatif. Hal ini disebabkan tingginya ekspor tahun lalu yang mencapai puncak.
Dia mengatakan dalam memperkirakan pertumbuhan, perbandingannya selalu dengan periode yang sama tahun lalu. Karena itu melihat kondisinya sekarang, mencapai angka nol titik impas nilai ekspor akan sulit. "Kalau bisa, itu luar biasa," kata Rusman usai rapat kerja tentang pagu indikatif dengan Komisi Keuangan Dewan Perwakilan Rakyat, di Jakarta, Selasa malam, 9 Juni 2009.
Pada 2008, menggambarkan ekonomi seluruh dunia berada pada posisi paling puncak. Terutama pada semester dua hingga mendekati Desember, harga komoditas sedang pada posisi atas.
"Jadi kalau bandingannya semester dua tahun lalu, ekspor yang bulanannya mencapai US$ 12 miliar, masih jauh. Sekarang saja masih US$ 8,5 miliar," kata dia.
Sebab, semester dua 2008 basisnya sangat luar biasa, ekspor Indonesia mungkin masih akan negatif. "Kalau mau positif, itu ekspor harus di atas US$ 12 miliar, berat juga," katanya. "Sangat masuk akal kalau kuartal dua nanti, pertumbuhan tahunannya mungkin di bawah 4,4 persen." hadi.suprapto@vivanews.com