VIVAnews - Indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang pekan ini bergerak menguat tajam hingga 162 poin (8,46 persen). Indeks melonjak dari pembukaan di level 1.916,83 menjadi 2.078,93 pada akhir penutupan transaksi pekan ini.
"Terlihat saham blue chips sektor pertambangan dan perbankan menjadi penggerak indeks sepanjang pekan ini," kata analis PT Panin Sekuritas Purwoko Sartono dalam ulasan akhir pekan yang diterima VIVAnews di Jakarta.
Sinyal membaiknya data makro ekonomi menimbulkan optimisme mulai pulihnya perekonomian global sejak krisis terburuk pada masa great depression 1930.
Data perumahan di Amerika Serikat (AS), angka pertumbuhan produk domestik bruto di Australia pada kuartal II-09 yang di atas ekspektasi, serta persoalan yang dialami General Motors pada 1 Juni 2009 menjadi titik terendah pada krisis saat ini.
Kondisi tersebut menimbulkan harapan bahwa perekonomian global mulai berada dalam fase pemulihan (recovery). "Pasar pun berspekulasi," ujar Purwoko.
Hal itu ditandai dengan menguatnya harga komoditas seperti minyak mentah (crude oil), nikel, timah, dan batu bara seiring dengan ekspektasi permintaan yang akan meningkat.
Menurut dia, angka inflasi yang rendah, yakni 0,04 persen (mom) dinilai pelaku pasar masih terkendali. Sementara itu, upaya Bank Indonesia (BI) yang kembali menurunkan BI rate dari 7,25 persen menjadi tujuh persen juga direspons positif pelaku pasar.
"Nilai tukar rupiah terhadap dolar terus menguat dari level 10.300/US$ pada Senin menjadi 9.935/US$, Jumat pekan ini," ujar dia.
Selain faktor melemahnya dolar AS terhadap mata uang lain, penguatan rupiah juga mengindikasikan mulai masuknya investor asing sebagai respons dari kuatnya fundamental ekonomi Indonesia di tengah krisis.
Rekomendasi
Meski euforia bullish diperkirakan masih berlanjut awal pekan depan, investor tetap disarankan berhati-hati karena indeks juga rawan ambil untung (profit taking).
Harga minyak sudah mendekati level resistance US$ 70-75 per barel. Sebab, bila harga minyak dan komoditas turun, hal itu akan menyeret turun harga saham pertambangan dan perkebunan.
"Selain itu, harga beberapa saham perbankan terlihat sudah kembali ke level sebelum krisis," katanya.
Meski demikian, beberapa data makroekonomi dari AS seperti tingkat pengangguran dan penjualan ritel dapat menjadi fokus investor pekan depan.
"Kami perkirakan, pekan depan indeks cenderung bergerak mixed dengan kisaran support-resistance 1.992-2.110," tuturnya.
• VIVAnews