Faisal Basri:

Capres Jangan Coba-coba Sistem Ekonomi

Asal tahu, sejak RI merdeka, sejumlah sistem ekonomi yang ada telah dicoba dan gagal.

Selasa, 2 Juni 2009, 05:34 WIB
Faisal Basri (Istimewa)

VIVAnews - Berbagai sistem ekonomi diusung calon presiden yang akan maju pada pilpres 2009 nanti. Menilik berbagai macam sistem ekonomi yang pernah dianut Indonesia, calon presiden 2009 hendaknya tidak bereksperimen.

Sebab sejak Indonesia merdeka, sejumlah sistem ekonomi yang ada telah dicoba dan tidak satu pun berhasil.

Sejumlah capres saat ini telah mengusung ide-ide sistem ekonomi yang dianggap cocok diterapkan untuk Indonesia. Mulai dari ide ekonomi kerakyatan hingga neoliberal kini menjadi topik pembicaraan masyarakat. Padahal jika sistem itu gagal diterapkan, taruhannya adalah nasib 240 juta penduduk Indonesia.

Pada era 1945-1950, misalnya, Indonesia menerapkan sistem ekonomi perang sesuai dengan kondisi global kala itu yang tengah mengalami Perang Dunia II. Sistem tersebut memang mau tidak mau harus diterapkan pemerintah.

Pada era 1950-1959, pemerintah kemudian mengubah sistem ekonomi tersebut menjadi ekonomi terbuka. Kala itu, sejumlah perusahaan asing diberikan kesempatan luas untuk berinvestasi di Tanah Air. Sayangnya, sistem tersebut malah membuat inflasi tidak terkendali, industri domestik terganggu, dan investor asing menjadi tidak nyaman.

Gagal dengan sistem tersebut, pemerintah di bawah Soekarno pada 1960-1966 mengubah kembali sistem ekonomi menjadi ekonomi terpimpin. Saat inilah, Indonesia mulai ketinggalan dengan negara lain karena inflasi yang membengkak hingga 650 persen. Selain itu, kebijakan berpihak pada Cina dan Moskow menyebabkan bantuan dari negara blok Amerika Serikat tidak mau membuka ekonominya bagi negara yang dianggap mendukung komunis.

Memasuki 1966 di mana terjadi pergantian kepemimpinan nasional dari Soekarno ke Soeharto. Sistem ekonomi nasional diubah kembali menuju sistem ekonomi yang tidak sepenuhnya diatur pasar. Nilai tukar rupiah dan suku bunga yang diatur merupakan salah satu bentuk intervensi negara. Selain itu sejumlah ahli ekonomi juga mulai dikirim ke universitas di luar negeri salah satu yang terkenal adalah ahli ekonomi jebolan Berkeley.

Hasilnya, ekonomi kita tidak terlalu bagus karena pemerintah mengesampingkan pembangunan demokratisasi. Akibatnya muncul predatory state, korupsi, dan nepotisme.

Berkaca dari pengalaman sejarah tersebut, capres 2009 hendaknya tidak bereksperimen dalam menerapkan sistem ekonomi yang cocok untuk Indonesia. Apalagi tiga nama capres yang ada saat ini merupakan tokoh-tokoh lama yang sudah berkecimpung di pemerintahan. Istilahnya 4L: lu lagi lu lagi.

Saya ingin mengingatkan kepada capres bahwa perubahan mendasar ekonomi dan bangsa ini tidak bisa selesai hanya dalam lima tahun mendatang.  



Disarikan dari presentasi Faisal Basri dalam Diskusi Indonesia Masa Depan Berkaca dari Imajinasi Capres di Pejaten Village, Jalan Raya Pasar Minggu, Jakarta, Senin 1 Juni 2009.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
barus tarigan ginting sembiring perangin angin
11/09/2010
mejuah juah tanahkaro simalem gunung sinbung meletus tolong para pengungsi merdeka!!!
Balas   • Laporkan
DTM Dosen Telantarkan Mahasiswa
16/06/2010
Pak dosen ini lupa sama faktor korupsi. Yang membuat semuanya gagal adalah korupsi. Lupa mungkin dia. Sistem ekonomi apa pun, sepanjang korupsi masih bercokol, tidak akan pernah memakmurkan siapa pun, kecuali yang berada dalam lingkaran korupsi. Jadi, p
Balas   • Laporkan
Basir
15/11/2009
Jika terjadi kegagalan ekonomi dalam negri,maka perlu diuji coba ekonomi sistim barter.(contoh,beras ditukar dgn gula).
Balas   • Laporkan
untung subagijo
03/08/2009
Peningkatan ekonomi tidak bisa instan pembangunan sumber daya manusia yang terpenting dengan meningkatnya mutu SDM maka semua efek samping positif akan mengikuti maka kita harus meningkatkan pendidikan buat anak anak kita kalau sistemnya bagus tapi SDM n
Balas   • Laporkan
Aditya Rahmat Perdana
19/06/2009
Semua Ekonomi yang sudah ada memang sudah terbukti gagal, sebab semua sistem hanya berujung pada secular oriented, sekarng waktunya kita kembali kepada yang menciptakan kita, sudah sepantasnya kita menerapkan ekonomi yang berbasis kepada ketuhanan, sebab
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ