VIVAnews - Pengamat kebijakan publik Andrinof Chaniago berharap calon presiden mendatang harus bisa membenahi struktur ekonomi Indonesia. Jika tidak, maka ekonomi Indonesia akan dengan mudah mendapat guncangan.
Menurutnya struktur ekonomi tersebut bentuknya bukanlah seperti fundamental ekonomi yang sudah ada, indikator ekonomi makro umum seperti inflasi, suku bunga dan lain-lain. Tapi bagaimana basis wilayah, konstruksi geografis, demografis dan kekuatan sumber daya manusia ikut menyumbang.
Menurut Andrinof, basis wilayah dan demografi ini sama sekali tidak pernah diperhitungkan oleh pemerintah. Ia memberi contoh misalnya, indeks pembangunan manusia (IPM), di mana yang tertinggi berada di Jakarta.
"IPM tinggi di Jakarta, itu bukan karena pemerintah yang buat, tapi dapat diistilahkan, ada gula ada semut. Di sini orang pintar berkumpul makanya IPM tinggi," katanya. Faktor-faktor seperti ini yang tidak pernah diperhitungkan oleh pemerintah membuat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan tidak terjadi.
Menurutnya berangkat dari model ekonomi sekarang, siklus negatif akan berulang. Indonesia dalam jangka panjang hanya akan mengalami siklus pertumbuhan yang tinggi dan rendah.
"Jakarta kalau guncang, maka semuanya guncang, kenapa karena ini memang struktural tumpuannya di Jakarta," kata dia di Jakarta, Kamis 28 Mei 2009. Fluktuasi ekonomi Indonesia akan sangat rentan terhadap kondisi umum.
Menurutnya karena tidak terjadinya keefisienan dalam struktur ini, maka Indonesia banyak mengalami kerugian. Ia mengambil contoh beban kerugian yang harus ditanggung oleh Jakarta.
"Per tahun wilayah ini rugi Rp 43 triliun," katanya. Kerugian ini timbul karena masyarakat Jakarta boros belanja BBM, onderdil, penyakit fisik, dan hilangnya waktu luang.
"Survei mengatakan pendapatan mereka meningkat, tapi sebenarnya tidak, karena pendapatan mereka meningkat akibat menambah waktu. Jika ini dihitung dengan waktu yang sama, sebenarnya pendapatan mereka turun atau tetap," katanya.
Struktur-struktur demografi seperti ini menurutnya, dalam ekonomi tidak pernah dihitung. Calon pemerintahan mendatang diharapkan bisa lebih memperhitungkan struktur ekonomi di Indonesia.