Pemerintah Waspadai Posisi Utang

Ini ada kaitannya dengan hasil survei lembaga Coface soal peringkat utang.

Rabu, 27 Mei 2009, 18:50 WIB
Umi Kalsum, Agus Dwi Darmawan
Menkeu Sri Mulyani (Andika Wahyu)

VIVAnews - Pemerintah terus mewaspadai kualitas Anggaran Pendapatan Belanja Negara dalam hal posisi utang negara dan suku bunga. Pengumuman hasil survei Lembaga Penyedia Jasa Manajemen Usaha (Credit Management Services for Business) Coface pada 14 Mei 2009, ada kemungkinan dampaknya terasa dalam 6-12 bulan kedepan.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan risiko negara (country risk) menjadi peringatan seluruh dunia dalam masa krisis seperti ini.

"Seperti Inggris keuangan negara diperingatkan karena outstanding terhadap utang begitu besar. Itu akan mengubah atau paling tidak mempengaruhi," katanya di Departemen Keuangan, Rabu 27 Mei 2009.

Pengaruhnya antara lain terhadap mata uang yang biasanya dolar akan melemah, juga permintaan terhadap surat utang turun. Ini akan berakibat ke negara seperti Inggris harga surat utangnya relatif lebih murah dan interest rate naik.

"Jadi bisa saja global interest rate nanti memback up, tapi saya rasa pengaruhnya baru dalam 6-12 bulan ke depan," katanya.

Survei Coface dalam 'Country Risk Meeting' di New York 14 Mei 2009 lalu, menyebutkan, rating AS masih diawasi dengan implikasi negatif. Sejak Maret, country risk Amerika AA. Ini dipengaruhi oleh situasi politik, ekonomi dan lingkungan bisnis yang masih baik.

Rating Inggris AAA sedang Indonesia dengan rating B. Rating Indonesia dipengaruhi keadaan politik ekonomi yang tidak tentu, lingkungan bisnis agak tidak tentu yang berdampak pada perilaku pembayaran perusahaan.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ