VIVAnews - Keputusan menaikkan bea keluar ekspor CPO hingga 3 persen disinyalir akan membuat ekspor CPO Indonesia tidak kompetitif dibandingkan kompetitor lain, seperti Malaysia, India, atau China.
"Terutama dengan Malaysia, karena di sana tidak ada bea keluar dengan harga internasional yang sama," kata Managing Director PT Sinar Mas G Sulistiyanto di sela-sela operasi pasar Minyakita di Kelurahan Bungur, Jakarta Pusat, Selasa, 26 Mei 2009.
Padahal, kata dia, Indonesia merupakan produsen CPO terbesar di dunia yang bersaing ketat dengan Malaysia. "Produksi CPO nasional kita setahun bisa 20 juta ton, sedikit lebih banyak dari Malaysia yang sebanyak 19 juta ton," ujarnya.
Dengan adanya kenaikan bea keluar, kata dia, ekspor otomatis akan berkurang karena secara nilai ekonomi harga Indonesia lebih mahal. "Turunnya berapa, sedang dibahas bersama di kantor Menko Perekonomian, mengingat asumsi semula ada di harga US$ 600 per ton," ujarnya.
Meski demikian, dia mengaku semua produsen akan berkomitmen menjalankan kebijakan tersebut. "Sudah disepakati bersama dengan harga tertentu bea keluar ekspor akan dinaikkan," ujarnya..
Tapi dia optimis pada bulan Juli harga internasional akan kembali turun karena masuk masa panen. "Juli nanti harga turun, bea keluar juga pasti ditinjau lagi," kata dia.
PT Sinar Mas, kata dia, selama ini melakukan ekspor CPO ke China, Eropa, dan India. "Prosentase ekspornya sekitar 20 persen dari produksi CPO," kata Sulistiyanto.
Untuk menambal proyeksi penurunan ekspor, PT. Sinar Mas menambah pabrik produksi minyak goreng untuk memenuhi permintaan dalam negeri. "Baru saja kami resmikan pabrik di Jakarta dan Kalimantan Selatan," ujarnya.
Kapasitas produksi CPO kedua pabrik tersebut mencapai 1.600 ton per hari, sehingga total produksi PT. Sinar Mas akan menjadi 3.400 ton per hari. "Dari total produksi CPO, sebanyak 80 persen diolah untuk minyak goreng," kata dia.