Susilo Bambang Yudhoyono

Asia, Motor Pertumbuhan Ekonomi Global

Asia adalah macan dan naga, yang ulet dan berani.

Kamis, 7 Mei 2009, 16:46 WIB
Presiden Yudhoyono (ANTARA/Ali Anwar)

VIVAnews - Krisis finansial global telah membuat tataran ekonomi dunia berubah drastis. Ekonomi global mengalami kompleksitas berlapis-lapis. Bahkan, krisis membuat ekonomi merosot terburuk sejak Great Depression pada 1930.

Tidak ada negara yang kebal dari dampak krisis. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, Eropa, Jepang dan banyak negara lain dalam teritori negatif. Sektor riil dimanapun terimbas. Jutaan orang kehilangan pekerjaan. Ekspor anjlok dan bursa saham merosot.

Upaya mencapai Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) pada 2015 terancam. Kemiskinan memburuk di banyak negara. Agenda mendesak terkait perubahan iklim terancam kena dampaknya. Modal dari negara berkembang ke negara maju pun mengalir dalam jumlah besar yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Ada pula kerusakan sosial dan politik di sejumlah negara.

Belum terlihat tanda-tanda jelas ujung dari krisis ini. Namun, bisa diperkirakan 2009 adalah situasi yang sulit bagi semua negara.

Pertemuan Dewan Gubernur ADB ke-42 di Bali tentu menjadi agenda terpenting dalam sejarah ADB. Tahun ini, pertemuan ADB menjadi sangat kritis untuk menjamin apakah ADB mempunyai kemampuan dan fleksibilitas guna membantu anggotanya menghadapi krisis. Situasi krisis ini justru relevan bagi ADB mencari solusi.

***

Yang penting dari titik balik ekonomi global adalah bagaimana kita menghadapi ekonomi dunia yang baru. Ekonomi yang penuh dengan tantangan. Ini perlu adaptasi, inovasi, jiwa kewirausahaan dan terbuka. Ini juga perlu kerja sama agar kita sukses menghadapinya.

Mengapa demikian? Karena saya percaya selalu ada peluang dibalik krisis.

Tengok saja, satu dekade lalu, Indonesia hampir lumpuh oleh kombinasi krisis, berupa krisis keuangan, ekonomi, sosial dan politik. Ekonomi RI kontraksi hingga minus 13 persen. Jutaan orang kehilangan pekerjaan dan miskin. Masa depan suram. Namun, karena krisis, kita punya energi positif untuk melakukan reformasi demi Indonesia yang lebih baik.

Beberapa tahun lalu, Indonesia juga menghadapi konflik etnik dan masyarakat secara serius. Beberapa analis memperkirakan terjadi balkanisasi di Indonesia dan memecah belah negara ini. Namun, dengan kemauan, penyelesaian tanpa kekerasan secara terus menerus, kita bisa memecahkan konflik satu per satu. Sekarang, Indonesia sudah lebih menyatu, bergandengan dan damai.

Lima tahun lalu, Indonesia juga mengalami musibah tsunami di Aceh, bencana alam terburuk pada jaman modern. Lebih dari 200 ribu oranng meninggal hanya dalam beberapa jam. Tapi, kita bekerja bersama dengan seluruh dunia.

Bahkan, ini adalah operasi militer internasional secara damai dalam jumlah terbesar sejak akhir perang dunia kedua. Puluhan ribu sukarelawan domestik dan luar negeri bekerja sama untuk kemanusiaan. Kini, Aceh telah dibangun kembali. Setelah tiga dekade terjadi konflik, sekarang sudah damai.

Sekarang, seperti krisis finansial 1998, krisis yang terjadi saat ini telah mendorong kita melakukan reformasi, serta bertindak tangkas dan cepat. Ini adalah kesempatan yang menjadi pelajaran penting bagi kita, sekaligus bagaimana menerapkan kebijakan di masa datang.

Salah satu hal positif dari krisis saat ini adalah langkah bersama yang diambil oleh komunitas internasional, untuk menangani krisis dengan segera. Untunglah, kita tidak melihat ada kecenderungan sikap proteksi dan isolasi. Ke depan, kita perlu menjaga agar ekonomi tetap terbuka.

Banyak pemerintah juga telah proaktif mengambil tindakan, seperti mengeluarkan kebijakan stimulus fiskal, serta menginjeksikan likuiditas ke sistem finansial mereka. Banyak negara menyuntikkan modal ke perbankan, sekaligus membereskan toxic asset.

Namun, itu semua solusi dalam jangka pendek. Bagaimana dengan solusi jangka panjang? Pada poin ini, saya senang karena sudah ada sejumlah langkah awal untuk memecahkan sejumlah isu mendasar.

Dalam G-20, Indonesia bersama Prancis menjadi pemimpin dalam working group yang fokus pada efektivitas lembaga keuangan multilateral, termasuk ADB. Indonesia bersama Australia dan Afrika Selatan bersama-sama dalam working group soal reformasi IMF. Sebagai bagian dari proses, G-20 yang juga anggota Dewan Gubernur ADB sepakat mendukung kenaikan modal ADB.

Tentu menyenangkan, Dewan Gubernur ADB setuju menambah modal hingga 200 persen, pertama kali sejak kenaikan modal 1994. Kenaikan modal ini akan memainkan peran penting bagi anggota ADB sebagai upaya melawan krisis dan mendukung investasi di banyak area guna mengurangi kemiskinan. Semua upaya ini akan meningkatkan kualitas hidup di kawasan Asia Pasifik.

***

Asia telah menjadi motor pertumbuhan ekonomi global bertahun-tahun. Ini masih akan berlanjut dalam tahun-tahun mendatang.

Perkiraan saat ini, ketika ekonomi global sedang menyusut, Asia masih berada pada teritori pertumbuhan positif. Bahkan, Asia menjadi kawasan dengan pertumbuhan tertinggi pada 2009-2010. Presiden ADB, Haruhiko Kuroda memperkirakan Asia Pasifik masih akan tumbuh 3,4 persen pada 2009 dan 6,0 persen pada 2010.

Tentu saja, ini level yang menjanjikan di tengah krisis. Mengapa tidak? Asia adalah macan dan naga, yang ulet dan berani. Dalam beberapa tahun, jika tak mau katakan dekade, kawasan Asia Pasifik telah menjadi simbol harapan dan inspirasi bagi masyarakat dunia.

Selama 42 tahun, ADB telah membuat penduduk di kawasan Asia Pasifik hidup lebih baik. Pemerintah Indonesia menghargai kerja keras dan luhur atas pencapaian ADB. Kami mengagumi kesetiaan dan profesionalisme kerja ADB dalam beberapa tahun.

Peran dan eksistensi ADB juga semakin penting di tingkat ekonomi global. Namun, dalam beberapa bulan dan tahun ke depan, ADB memiliki sejumlah tantangan. Apakah ADB dapat membantu negara-negara anggota kembali mencapai pertumbuhan positif? Apakah ADB mampu menghentikan pendarahan ekonomi Asia? Apakah ADB bisa mempromosikan solusi nasional, regional dan global?

Analisis ini disarikan dari pidato Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono saat membuka sidang tahunan ADB ke-42 di Nusa Dua, Bali, 4 Mei 2009.

 



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ