Bisnis

Pengusaha Mebel Jepara Banting Harga

Asmindo mencatat ekspor furniture merosot 45 - 50% pada kuartal I 2009.

Kamis, 23 April 2009, 07:42 WIB
Hadi Suprapto, Elly Setyo Rini
Ekspor Mebel Anjlok (Musyawir)

VIVAnews - Sejumlah pengusaha mebel asal Jepara dan sejumlah daearah lain megobral dagangannya menyusul rendahnya permintaan ekspor furniture akhir-akhir ini. Turunnya permintaan ekspor telah membuat pengusaha tidak bisa memasarkan produknya.

"Bahkan industri mebel di Jepara membahasakan berapa pun harga yang diminta pembeli akan diberikan," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono di Jakarta, Rabu 22 April 2009.

Asmindo mencatat ekspor furniture, baik kayu maupun rotan, merosot sebanyak 45 - 50 persen pada triwulan pertama tahun ini. Diperkirakan pada triwulan kedua masih akan turun.

Ambar, mengatakan demikian setelah memantau beberapa industri di Semarang, Jepara, Cirebon, dan Padang. Industri di Semarang, misalnya, sudah kesulitan untuk ekspor. "Biasanya 28 kontainer per bulan, tapi sekarang hanya mengirim 10 - 15 kontainer," katanya. 

Hal serupa juga terjadi di Cirebon. Ekspor di Cirebon merosot 40 hingga 45 persen. Sedangkan di Padang, malah kesulitan bahan baku.

Hasil pameran Iffina 2009 beberapa bulan lalu, menurut Ambar, masih jauh dari harapan. "Sudah ada agreement untuk order tapi ternyata belum realisasi juga sampai sekarang, bahkan banyak yang meminta penundaan," ujarnya.

Ambar mengaku jika kondisi demikian, tidak segera ditangani ditakutkan akan ada gelombang pemutusan hubungan kerja. "Ini industri padat karya," ujarnya. Dia juga meminta semua industri baik itu furniture barang jadi maupun bahan baku tidak saling menyalahkan. "Semua harus sepakat ini situasi yang kronis berat," ujarnya. 

Bahkan, dia menambahkan, pasar Timur Tengah yang digadang-gadang menjadi pasar alternatif baru juga jauh dari harapan. Pasar Timur Tengah yang diharapkan naik permintaanya malah tidak mengurangi. Perumahan-perumahan baru di sana berkurang karena banyak juga uang yang ditanamkan di Amerika Serikat.

Selain ekspor yang menurun, Ambar menjelaskan, juga terjadi penurunan yang cukup signifikan pada harga bahan baku rotan untuk industri. "Penurunan bisa mencapai 30 persen karena permintaan menurun," ujarnya.

Untuk menyelamatkan industri furniture, menurut Ambar, pemerintah perlu mendorong upaya promosi produk dalam negeri. "Misalnya Trade Expo Indonesia pada Oktober nanti harus terjangkau harga standnya. Jangan semahal kemarin bisa sampai Rp 1,65 juta per meter persegi," katanya.

Ambar meminta setidaknya harga stand untuk Trade Expo Indonesia 2009 maksimal Rp 800 ribu per meter persegi. "Kalau bisa digratiskan karena akan menjadi ajang untuk menaikkan kembali ekspor furniture," ujarnya.

• VIVAnews
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau 
  
webtorial