VIVAnews - Pengusaha mebel meminta pemerintah memberikan stimulan harga kepada industri dalam negeri pada Pameran Produk Ekspor (PPE) 2009 yang rencananya akan digelar pada Oktober nanti.
"Kami minta pemerintah menstimulan harga agar produk kita bisa murah, jangan sampai menjadi mahal sedunia," kata Ketua Asosiasi Industri Meubel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono kepada VIVAnews melalui sambungan telepon di Gunung Kidul Yogyakarta, Senin, 16 Maret 2009.
Menurut Ambar, stimulan itu penting agar industri dalam negeri semisal furniture terus menjadi "sunshine industry". "Furniture satu-satunya produk kayu yang masih hidup ekspornya," katanya.
Ekspor furniture, dia menambahkan, masih naik setiap tahunnya. "Saya yakin, ekspor furniture masih akan tumbuh sebesar 6 persen," ujar Ambar.
Pameran International Furniture and Craft Fair Indonesia (Iffina) 2009, kata Ambar, yang kemarin baru saja usai cukup membantu menggeliatkan ekspor, meski diakuinya belum secara total. "Kami butuh setidaknya tiga kali pameran hingga tahun depan untuk mempertemukan pembeli dengan industri dalam negeri," ujarnya.
Menurut dia, pameran seperti Iffina lebih efektif untuk meningkatkan ekspor dengan mengundang pembeli (buyer) potensial ke Indonesia.
Sementara itu, Iffina 2009, mencatat transaksi penjualan sebanyak US$160 juta dan mendatangkan 1.400 pembeli dari 94 negara, di antaranya Jerman, Spanyol, Amerika Sertikat, Rusia, dan Timur Tengah.