Pameran Mebel Iffina 2009

Pemerintah Kurang Peduli Industri Mebel

Pemerintah Belgia, memberikan skim bantuan selama tiga tahun maksimal sebesar 5 ribu euro.

Kamis, 5 Maret 2009, 17:04 WIB
Antique, Elly Setyo Rini
  (dok. Corbis)

VIVAnews - Pengusaha industri mebel merasa kurang mendapat perhatian pemerintah dalam penyelenggaraan pameran International Furniture and Craft Fair Indonesia (Iffina) 2009 pada 11-15 Maret 2009 di PRJ Kemayoran.

"Kalau di negara-negara lain seperti Singapura atau Belgia, pemerintahnya memberikan bantuan nyata. Lebih dari 85 persen biaya penyelenggaraan kami (Asmindo) tanggung sendiri," kata Ketua Umum Asosiasi Industri Meubel dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Ambar Tjahyono di Jakarta,
Kamis, 5 Maret 2009.

Ambar menyayangkan hal ini mengingat produk kayu merupakan salah satu dari 10 produk unggulan ekspor Indonesia. "Ekspor sepanjang 2008 mencapai US$2,1 miliar untuk mebel dan furniture belum ditambah dengan ekspor kerajinan sebesar US$600 juta," kata Ambar.

Selain itu, dia menambahkan, sektor tersebut menyerap banyak tenaga kerja karena hampir 80 persen merupakan Usaha Kecil dan Menengah (UKM). "Jumlah tenaga kerja dari hulu hingga ke hilir mencapai 11 juta orang," ujarnya.

Ketua Divisi Pemasaran Furniture Rotan Asmindo Rudy T Luwia membandingkan kekurangpedulian pemerintah dengan dukungan pemerintah Singapura dan Belgia.

"Singapura tahun ini juga selenggarakan pameran serupa dan pemerintahnya memberikan bebas biaya pameran sepenuhnya pada areal seluas 60 ribu meter persegi. Belum lagi dengan upaya promosi dan branding produk mebelnya sangat luar biasa," kata Rudy.

Sedangkan pemerintah Belgia, dia mengatakan memberikan skim bantuan selama tiga tahun maksimal sebesar 5 ribu euro untuk industri berorientasi ekspor yang akan pameran di luar negeri.

"Pameran ini dalam artian kita masih butuh promosi karena industri mebel kita kecil-kecil dan jaringan rekanan di luar negeri kurang kuat. Jadi, pemerintah harus mendukung minimal di promosi saja sudah cukup," kata Rudy.

Hal serupa dikatakan Ambar. "Promosi memang diperlukan untuk menggaet para pembeli potensial," ujarnya.

Tercatat 87 negara akan datang pada pameran tersebut, termasuk Amerika Serikat yang selama ini selalu berkiblat pada China. "Pembeli Amerika ada sekitar 50 orang, lebih banyak dibandingkan tahun sebelumnya," kata dia.

Selain itu, Ambar juga meminta dukungan perbankan untuk keberlangsungan industri mebel. Sebab, selama ini pengusaha dan perbankan seperti benci tapi rindu. "Rindu kreditnya, tapi benci bunganya,"
ujarnya.

Pasalnya, dia menambahkan, perbankan masih menganggap sektor mebel termasuk industri penuh risiko sehingga mengenakan bunga tinggi hingga 17 persen.



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Amir
06/04/2010
Ya saya setuju dg Pak Ambar, Indonesia memang kurang peduli dg Industri kecil dan menengah. saya contohnya ikut di ASPEKAJE ( Asosiasi pengrajin kecil JEPARA ) kalau mau pameran harus pake dana sendiri. tolong kalau ada investor yang mau bantu usaha furni
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ