Derita Buruh Bekasi

Setelah 10 tahun kerja, Pujo hanya digaji Rp1,4 juta. Tak cukup membiayai keluarga.

Sabtu, 4 Februari 2012, 11:01 WIB
Hadi Suprapto, Erik Hamzah (Bekasi)
Aksi buruh yang melumpuhkan Jalan Tol Jakarta-Cikampek selama delapan jam pada 27 Januari. (ANTARA/Widodo S. Jusuf)

VIVAnews - Upah buruh yang minim memaksa Pujo Pambudi, 50, membiarkan istrinya Poniyem, 47, berdagang jamu gendong. Pujo, merupakan aktivis buruh dari Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) itu tak kuasa menanggung beban hidup sendiri saat semua semakin mahal.

Pria asal Puworejo, Jawa Tengah, itu sudah 10 tahun mengabdi di pabrik pembuat seng atap PT ADH Metal Indonesia di Kawasan Industri Delta Silicon, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi.

Pujo yang sudah dikaruniai dua anak itu hingga kini terpaksa masih mengontrak di sebuah rumah di daerah Pilar, Cikarang Utara. Sebab, dalam sebulan penghasilan kotor Pujo hanya Rp1,6 juta.

Setelah 10 tahun bekerja, Pujo hanya memiliki gaji pokok Rp1,41 juta. Penghasilan itu masih ditambah Rp10 ribu dari uang transport dan uang makan yang diberikan apabila masuk kerja. "Satu bulan saya kerja 22 hari,” ujarnya, Sabtu, 4 Februari 2012.

Dengan gaji itu, Pujo harus menyisihkan biaya bulanan, bayar kontrakan Rp400 ribu, biaya pendidikan anak Rp150 ribu, dan biaya ongkos sekolah anak Rp450 ribu. “Bisa dibayangkan dengan gaji segitu, kapan buruh bisa sejahtera?” katanya.

Untungnya, Pujo mempunyai seorang istri yang pengertian. Poniyem kini berprofesi sebagai pedagang jamu keliling. Penghasilan istri dalam sehari rata-rata Rp25 ribu. "Cukup untuk menutupi biaya hidup yang mahal,” lanjutnya.

Pujo menyayangkan kebijakan perusahaan dalam memberikan uang transport yang hanya Rp5.000 per hari. Padahal dalam sehari dia harus merogoh kocek Rp20 ribu untuk berangkat dan pulang kerja. “Saya berharap kenaikan gaji sebesar 30 persen sesuai SK Gubernur Jawa Barat segera direalisasikan,” katanya, meminta.

Jika SK Gubernur Jawa Barat diberlakukan, dalam sebulan Pujo akan mendapatkan peningkatan pendapatan hingga Rp400 ribu sebulan. “Walaupun minim, tapi itu cukup. Mengingat harga bahan kebutuhan pokok saat ini sudah melambung tinggi,” ujarnya.

Aktivis FSPMI yang juga menjadi Ketua Pimpinan Unit Kerja (PUK) Federasi tersebut di perusahaan, mengaku ketika itu menjadi salah satu penggagas aksi buruh di Kabupaten Bekasi, untuk mendesak Apindo mencabut gugatan mengenai SK yang sudah di tandatangani Gubernur. “Itu sebagai wujud agar aksi kita direspon cepat oleh pemerintah. Kita juga ketika itu kesal dengan Apindo yang berulangkali menolak mencabut gugatan,” terangnya.

Gaji baru yang sudah berhasil dimenangkan oleh buruh, setelah pemerintah memberikan kepastian, sehingga bisa dilaksanakan bulan depan. “Aksi kan ketika itu dilakukan 27 Januari, mudah-mudahan bulan depan sudah ada gaji baru,” tuturnya.

Beda dengan Pujo Ketua FSPMI Kabupaten Bekasi yang juga Koordinator Buruh Bekasi Bergerak, Obon Tabroni, bahkan terpaksa keluar dari tempat kerja dan membuka usaha bengkel mobil.

Dia mengaku, saat menjadi buruh di Panasonic di Cibitung, Bekasi, dia hanya dibayar rata-rata Rp1,5 juta per bulan.

Obon sendiri resmi keluar dari perusahaan elektronik itu pada Februari 2010 atau tepat setahun lalu. “Setelah tidak lagi terikat jam kerja, maka saya serius memperjuangkan nasib buruh,” katanya, menerangkan. (hp).



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
ariant
25/04/2012
Untuk Bung Pujo, sebelumnya mohon maaf. Anda 10 tahun bekerja dihargai IDR. 1,4jt. Sebelum kita bicara lebih jauh, mohon koreksi dulu. Basic pendidikan anda apa? skill anda apa? kalau anda merasa tidak puas, silahkan hengkang dari company, anda berani?
Balas   • Laporkan
ariant | 25/04/2012 | Laporkan
kalau anda tidak mempunya kapasitas dan kapabilitas, ya sadar diri saja. kecuali anda punya kelebihan yg bisa dibanggakan, silahkan anda menuntut :)
groby
05/02/2012
dagang ja pak pujo...kayak istri
Balas   • Laporkan
tahta99
05/02/2012
beranilah menjadi wiraswasta ..walau nggak gampang setidaknya akan lebih dihormati..kasihan juga jadi buruh..sebenernya yg bikin produksi biaya tinggi tuh pemerintah..coba harga mobil 150 jt klau pajak nggak tinggi bs 90 jt..jadi buruh hanya jd korban
Balas   • Laporkan
qwerty432 | 09/02/2012 | Laporkan
Kalau semua wiraswasta siapa yang akan menggerakkan perindustrian.Selama pemerintah masih korup dan banyak oknum melakukan pungli , upah buruhlah yang akan ditekan oleh pengusaha
angkringan78 | 05/02/2012 | Laporkan
setuju skali .... :)
mickymouse
04/02/2012
DEMO JANGAN KE PENGUSAHA, TAPI KE PEMERINTAH MENGAPA HARGA BAHAN2 POKOK MENJADI MAHAL. PADAHAL NEGARA KITA INI NEGARA AGRARIS.
Balas   • Laporkan
pras57
04/02/2012
seharusnya buruh demonya jgn ke pengusaha tetapi ke pemerintah krn gak becus mengontrol biaya kebutuhan hidup. beras & lauk mahal, biaya sekolah mahal, biaya sakit mahal, biaya transport mahal, semua ini yg bikin upah gak ckp.
Balas   • Laporkan
omradsky
04/02/2012
nah gitu dong jadi pengusaha walau kecil2an, biar pemasukan kecil tapi kan bisa turut membentu negara dan lingkungan sekitar
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ