Penyebab KPR Rumah Murah Terhenti

Pemerintah meminta agar bank menurunkan suku bunga pemilikan rumah atau KPR 5-6 persen.

Jum'at, 3 Februari 2012, 10:34 WIB
Antique, Ronito Kartika Suryani
Perumahan rakyat (kemenpera.go.id)

VIVAnews - Indonesia Property Watch (IPW) menilai tertundanya program pemerintah berupa fasilitas likuiditas pembiayaan perumahan (FLPP) akibat salah pemerintah dalam melihat kondisi di lapangan mengenai pembangunan perumahan rakyat.

Seperti diketahui, pemerintah mencoba bernegosiasi dengan perbankan agar suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) diturunkan menjadi lima sampai enam persen.

"Itulah arogansi pemerintah dengan membawa kepentingan masing-masing tanpa melihat kondisi lapangan yang akhirnya akan berakibat fatal," kata Direktur Eksekutif IPW, Ali Tranghanda kepada VIVAnews.com, Jakarta, Jumat 3 Februari 2012.

Menurut Ali, sebetulnya dengan penerapan skema lama tetap berjalan, dengan suku bunga 8,15 persen sepertinya para konsumen tidak protes. "Malah permintaan naik dari 8.000 unit pada 2010 menjadi 109.000 unit di 2011. Kan lucu, pemerintah mengorbankan rakyat hanya demi negosiasi bunga yang cuma 1-2 persen," ujarnya.

Seharusnya, Ali melanjutkan, pemerintah tidak menghentikan FLPP secara sepihak tanpa berdiskusi dengan para pemangku kepentingan seperti pengembang dan perbankan.

Ali menilai, keinginan pemerintah untuk menurunkan suku bunga KPR cukup bagus, namun hal itu tidak dengan mudah bisa begitu saja dilakukan.

"Kecuali, porsi pemerintah dalam memberikan subsidi mencapai 90 persen, sisanya ditanggung bank. Sebab, para bank penyalur FLPP seperti BRI, BTN, dan BNI, meski bank pemerintah, mereka kan perusahaan terbuka yang tidak bisa semaunya merugi," ujar Ali.

Ali kembali menengaskan, jika polemik FLPP terus terjadi dan tidak membuahkan penyelesaian, dipastikan penyerapan rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah akan berkurang dan jauh dari misi untuk mengurangi ketersediaan hunian atau back log.

"Untuk itu, sebaiknya pemerintah dan bank penyalur FLPP dapat bermusyawarah. Jika tidak, yang rugi pasti rakyat juga," katanya. (art)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
tujuhsembilan
03/02/2012
austaralia rate 6,5% untuk 30 tahun, kalau mau ambil 10 tahun juga lebih tinggi. amerika 3-4% untuk 30 tahun.. tapi yg org lupa adalah, masyarakat kita itu faktor high risk untuk jadi bad debt sangat tinggi...
Balas   • Laporkan
rpg7
03/02/2012
kasihan ya rakyat kecil, subsidi BBM dan Listrik mo dicabut ama pemerintah, terus bank2 pemerintah enggan turunkan suku bunga KPR. Udah gt pejabat2 bank bilang pemerintah arogansi lah dll. Pak ali, 5-6% itu udah besar pak liat ke negara tetangga dong..
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ