BI: Rupiah Menguat, Jakarta Dianggap Mahal

Melemahnya dolar membuat beberapa produk menjadi tinggi harganya.

Jum'at, 22 Juli 2011, 14:27 WIB
Nur Farida Ahniar, Harwanto Bimo Pratomo
Ilustrasi Jakarta (Antara/Ismar Patrizki)

VIVAnews - Bank Indonesia menilai hasil beberapa survei yang menyatakan Jakarta sebagai salah satu kota termahal di Asia Tenggara disebabkan oleh semakin membaiknya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Jakarta menempati posisi kedua setelah Singapura dalam urusan tingginya biaya hidup bagi para ekspatriat.

"Bagi ekspatriat, dari dolar yang mereka miliki, karena nilai tukar rupiah terapresiasi, dia merasa menjadi lebih mahal untuk membeli sesuatu dalam rupiah," ujar Deputi Gubernur Bank Indonesia, Hartadi A Sarwono, saat ditemui di Gedung BI, Jakarta, Jumat 22 Juli 2011.

Terapresiasinya mata uang rupiah terhadap dolar, dia melanjutkan, membuat beberapa produk menjadi tinggi harganya untuk dijangkau oleh para ekspatriat seperti contohnya sektor properti. "Bisa saja untuk satu produk-produk tertentu seperti itu," imbuhnya.

Sebelumnya, hasil penelitian Mercer's Cost of Living Survey 2011 mengatakan Jakarta menjadi salah satu kota termahal di Asia Tenggara, setelah Singapura.

Menurut survei itu, secara global Jakarta menempati peringkat ke-69 dalam daftar kota termahal bagi ekspatriat. Hal itu berarti Jakarta masih lebih mahal ketimbang  kota utama di Asia Tenggara, kecuali Singapura. Hanoi menempati peringkat ke-136, Bangkok (88), sedangkan Kuala Lumpur (104).

Survei lainnya juga menunjukkan Jakarta sebagai kota dengan biaya hidup termahal di dunia. ECA International menempatkan Jakarta di posisi ke-102 sebagai kota termahal di dunia. Kota lainnya Surabaya berada di posisi ke-173 dan posisi Balikpapan di 187 dunia.

Jika dikerucutkan dalam level yang lebih kecil yaitu Asia, tiga kota besar di Indonesia ini masuk dalam daftar 40 kota dengan biaya hidup paling mahal di Asia. Kota metropolitan Jakarta bahkan masuk dalam posisi ke-15 di Asia, naik satu peringkat dari tahun sebelumnya di posisi ke-16.

Sementara itu, Surabaya dan Balikpapan masing-masing berada pada posisi ke-31 dan 34 dari sebelumnya 31 dan 33 di Asia. (art)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
tahta99
04/08/2011
bagi yg bergaji dolar ini kabar buruk..tapi bg yg bergaji rupiah..ini kabar baik...semakin rupiah menguat thd dolar.. harga cenderung turun.terutama produks2x import...yg menjadi pertanyaan adalah seberapa pemerintah berkomitmen dng ekonomi dalam negeri..
Balas   • Laporkan
mons
04/08/2011
terus ini kabar baik atau buruk ???
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ