Semen Laris, Indocement Untung Rp2,3 Triliun

Laba bersih produsen semen itu naik 27,5 persen dari Rp1,87 triliun menjadi Rp2,3 triliun.

Jum'at, 29 Oktober 2010, 11:01 WIB
Antique, Syahid Latif
Tumpukan semen di sebuah gudang di Jakarta (richarddetrich.files)

VIVAnews - Pasar semen makin laris manis. Bahkan, volume penjualan domestik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (berkode saham INTP) hingga kuartal III-2010 meningkat sebesar 13,5 persen menjadi 9,4 juta ton dari periode sama 2009 sebesar 8,3 juta ton.

Sedangkan pangsa pasar perseroan meningkat 31,1 persen dibandingkan periode sama 2009 yang sebesar 29,7 persen.

Menurut Dani Handayani, sekretaris perusahaan Indocement, kenaikan pangsa pasar itu didukung kelebihan kapasitas yang saat ini dimiliki perseroan. Apalagi, Indocement merupakan satu-satunya produsen semen di Indonesia yang mengalami kelebihan kapasitas cukup signifikan dan mampu memenuhi pertumbuhan pasar domestik yang tinggi.

"Sedangkan penjualan ekspor klinker lebih rendah 30,7 persen menjadi 0,82 juta ton dari tahun lalu yang mencapai 1,18 juta ton. Penurunan ini karena perseroan fokus pada permintaan domestik yang tinggi," kata dia dalam publikasi laporan keuangan perseroan di Jakarta, Jumat 29 Oktober 2010.

Sementara itu, total volume penjualan perusahaan semen tersebut hingga kuartal III-2010 mencapai 10,2 juta ton atau lebih tinggi 8 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya sebanyak 9,5 juta ton.

Kinerja Indocement per akhir September 2010 itu juga semakin kokoh, baik dari sisi penjualan maupun laba bersih dibandingkan periode sama tahun lalu.

Pendapatan bersih Indocement naik 9,2 persen menjadi Rp8,11 triliun dari periode sama 2009 sebesar Rp7,42 triliun. Marjin laba kotor juga menggelembung 50,5 persen dari 47,7 persen atau sebesar Rp4,09 triliun dari tahun lalu Rp3,54 triliun.

Namun, beban usaha juga naik sekitar 13,2 persen menjadi Rp1,12 triliun dari tahun sebelumnya yang hanya Rp989 miliar. Hal itu dipicu kenaikan biaya logistik, mengikuti kenaikan volume penjualan dan meningkatnya penjualan di luar Jawa.

Kendati demikian, laba usaha meningkat 16,7 persen menjadi Rp2,97 triliun dari 2009 yang membukukan Rp2,55 triliun. Sedangkan marjin laba usaha naik dari 34,3 persen menjadi 36,7 persen.

Laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi (EBITDA) juga melonjak 16,1 persen menjadi Rp3,44 triliun dari periode sama tahun lalu Rp2,96 triliun. Demikian pula laba bersih yang naik 27,5 persen dari Rp1,87 triliun menjadi Rp2,38 triliun. (art)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atauÂ