Bisnis

Peningkatan Daya Saing RI Terbaik di Dunia

Indonesia naik 10 peringkat, dari urutan 54 menjadi 44 di antara 144 negara.

Kamis, 9 September 2010, 12:56 WIB
Pipiet Tri Noorastuti, Iwan Kurniawan
Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu  

VIVAnews – Daya Saing Indonesia (Global Competitiveness Index, GCI) 2010-2011 meningkat signifikan dari peringkat 54 menjadi 44, di antara 144 negara. Indonesia menjadi negara berprestasi terbaik dengan naik 10 peringkat.

Laporan ini diumumkan di Tianjing, China, Kamis, 9, September 2010, sebagai acara kick off pelaksanaan World Economic Forum Summer Davos yang dimulai 10-14 September 2010. GCI merupakan peringkat yang dilansir World Economic Forum, yang berkantor di Jenewa, Swiss.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menjelaskan kenaikan peringkat ini disebabkan kondisi makroekonomi yang sehat, termasuk di saat krisis ekonomi tengah berlangsung. Keberhasilan ini membawa Indonesia naik 18 peringkat dari sisi kesehatan makroekonomi ke posisi 34 dunia.

“Secara keselurah Indonesia berada di atas India (peringkat 51) dan Vietnam (59), tapi masih di bawah Thailand (38) dan Malaysia (26),” kata Mari Elka.

Mari menjelaskan utang publik tetap pada titik yang terkendali yaitu 31 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Sementara tingkat tabungan meningkat 33 persen dari PDB. Selain itu, inflasi di tahun 2009 menurun menjadi 4,8 persen, setengah dari inflasi tahun 2008.

“Ketika banyak negara mengalami defisit bujet, Indonesia berhasil mengatasi masalah tersebut dengan sangat baik,” ujarnya.

Terlebih, kata Mari, Indonesia telah mengalami banyak kemajuan di bidang pendidikan yang ditunjukkan dengan membaiknya angka Indonesia pada indikator yang berhubungan dengan pendidikan, sebagaimana diukur oleh GCI.

“Reformasi birokrasi yang berlangsung di Indonesia juga telah berhasil. Reformasi birokrasi menyebabkan perbaikan regulasi birokrasi sehingga menyebabkan perbaikan iklim usaha,” ujar Mari, yang juga salah satu Board Member of Global Agenda Council on Competitiveness, WEF. 

Walau demikian, menurut Mari, masih terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan. Salah satu yang patut menjadi perhatian adalah kondisi infrastruktur Indonesia yang saat ini baru berada di posisi 82, jalan di posisi 84 dan ketersediaan pasokan listrik di posisi 97.

Selain infrastruktur, hal lain yang juga harus diperhatikan adalah makin memburuknya kondisi kesehatan terutama yang berkaitan dengan tuberculosis (TBC), malaria dan tingginya angka kematian bayi yang  merupakan yang tertinggi di dunia. 

“Hal terakhir yang perlu diperhatikan juga oleh Indonesia adalah tingkat penggunaan ICT yang masih tetap rendah (posisi 103). Apalagi jika dibandingkan dengan penggunaan internasional,” ujarnya. (kd)

• VIVAnews
Rating
Komentar
laila
15/09/2010
mantap ciiiin! lanjutkan di mikronya
Balas   • Laporkan
Donnie
13/09/2010
Mangkanya, benerin dulu tuh masalah listrik dan birokrasi 'beler' nya biar tambah naik peringkat
Balas   • Laporkan
sibarakaduk
10/09/2010
tapi jangan lupa indeks kesejahteraan kita yang masih rendah karena peringkat transparasi yang belum baik... jalan masih banyak yang rusak, listrik byar pet, gas yang meledak, gizi buruk melanda, bancana yang akrba dari banjir hingga gempa, itu PR negara
Balas   • Laporkan
Gilbert
10/09/2010
Good progress Bu'. Pertahankan dan lanjutkan prestasi ini.
Balas   • Laporkan
wak atan
09/09/2010
merinding saya mendengarkanya.. Popularitas dunia aja yg kita kejar, coba lihat rakyat kita.??. Kalau perlu kita seperti kuba saja kan ngk pa2, ngk usah ikut forum dunia..BAHAGIAKANLAH RAKYAT ANDA BUK..!! Kok kita surga dunia, rakyatnya sengsara.. BULSHIT
Balas   • Laporkan
wak atan
09/09/2010
merinding saya mendengarkanya.. Popularitas dunia aja yg kita kejar, coba lihat rakyat kita.. Kalau perlu kita seperti kuba saja, ngk usah ikut forum dunia..BAHAGIAKANLAH RAKYAT ANDA BUK..!!
Balas   • Laporkan
pembeli
09/09/2010
Kalau memang Peningkatan daya saing RI terbaik di dunia, saatnya sekarang menguatkan nilai rupiah, berani nggak dollar menjadi IDR 2.500,-, Harga BBM & Listrik turun, subsidi untuk rakyat miskin
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau 
  
webtorial